Sabtu, 12 Februari 2011

KISAH CINTA TAK BERUJUNG

Oleh: Anas Nasrudin

Judul buku : Padang Bulan dan Cinta di dalam Gelas
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama Juni 2010
Tebal : xii + 245 dan vi + 270

Siapa yang tak kenal Andrea Hitara (AH), melalui karya-karyanya ia telah menyihir jutaan pembaca, Setelah sebelumnya menelurkan novel tetralogi : Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan, Maryamah Karpov. Rupanya ada cerita-cerita terserak yang luput dari tulisannya, hingga ia merasa perlu melengkapinya dengan meluncurkan dwilogi Padang Bulan dan Cinta di dalam Gelas. Bagi pembaca yang telah mencicipi cita rasa literer Andrea, dua novel yang didesain unik menjadi 2 in 1 ini tak jauh beda dengan novel-novel yang ia tulis sebelumnya, kekhasan Andrea dapat kita telusuri dari cara ia menarasikan aspek budaya, serta menampilkan roman cinta tak terduga dan gila, Saat saya membaca karya-karyanya, kadang saya merasa sedang membaca sebuah buku catatan harian, catatan pengalaman hidup masa kecil hingga ia dewasa, terkadang tokoh-tokoh kecil sahabat Ikal, Lintang misalnya, ia terkesan terlalu berpengetahuan luas, bagaimana mungkin bocah kecil yang duduk di bangku SD mampu menerang-jelaskan rumus-rumus rumit matematika yang mungkin Andrea dapati dari pengalaman semasa kuliahnya di Sourbone. Terlepas dari itu semua, bagi saya AH adalah seorang seniman kata-kata, ia selalu mampu memvisualisasikan konflik, latar, dengan analogi yang memukau. Hingga tak aneh apabila novel-novelnya dialih-bahasakan ke berbagai bahasa di dunia, mensejajarkannya dengan penulis-penulis dunia.

Padang Bulan

Cerita novel ini dibuka dengan kisah rumah tangga Zamzami dengan Syalimah. Keduanya saling kenal dan menyimpan rasa saling suka, saat belajar ngaji bersama sewaktu remaja, namun keduanya tak tahu cara bagaimana mengungkapkannya, Zamzami dan Syalimah menyiksa diri dengan melambat-lambatkan belajar ngaji, rela dimarahi guru ngaji agar terus bisa melewati waktu bersama, padahal keduanya sudah sama-sama menguasai membaca. Rupanya hal itu tercium oleh sang guru, keduanya pun dijodohkan dan menikah. Zamzami dan Syalimah hidup bahagia dengan dianugerahi 4 orang anak, kemiskinan membuat hal-hal sederhana jadi berharga, hati Syalimah berbunga-bunga saat dihadiahi sebuah sepeda oleh suaminya, hal itu bukan karena sepedanya, ia begitu terharu lantaran obrolannya mengenai sepeda digenggam oleh Zamzami sebagai sebuah janji selama bertahun-tahun, dan lelaki itu mewujudkannya, padahal Syalimah sendiri tak pernah meminta apapun pada suaminya, baginya lelaki sederhana pendulang timah itu adalah segalanya, cinta tulus suaminya lebih berharga dari segala bentuk materi.

Begitu pula dengan Enong (panggilan khas Zamzami untuk anak perempuan sulungnya) yang duduk di kelas 6 SD, Zamzami mengerti keinginan anaknya untuk memiliki kamus bahasa Inggris, ia pun kerja keras menabung hingga mampu membelinya di pasar buku loak. Namun malang jarak antara bahagia dan derita hanya setipis kulit bawang, baru saja hati Syalimah berbunga lantaran kejutan suaminya. mendadak dirundung duka tak terduga, mendapati kabar dari Sirun bahwa suaminya terkubur di galian tambang timah. Saat Syalimah menggalinya beradu cepat dengan penambang timah lain yang berusaha menolong, ia mendapati suaminya telah meregang nyawa. Sementara Enong saat dijemput di sekolahnya oleh Sirun dan mendapati kabar ayahnya yang berhati putih itu tiada, air matanya menetesi kamus pemberian ayahnya.

Cerita berlanjut dengan kepergian Enong merantau ke Tanjong Pandan untuk mencari pekerjaan demi ibu dan ketiga adiknya, tak lupa ia membawa Kamus Satu Miliyar warisan sang ayah, baginya kamus itu begitu berharga dan akan ia bawa kemanapun. Sesampainya di Tanjong Pandan, hampir tiap hari ia mendatangi puluhan juragan untuk memperoleh pekerjaan. Namun usianya yang masih belia dan tubuhnya yang kurus membuatnya ditolak oleh puluhan juragan, padahal enong telah memakai baju berlapis-lapis agar terlihat lebih besar dan meyakinkan, namun semuanya menolak, bahkan tak sedikit yang mengusirnya dengan kasar. Akhirnya setelah perbekalan habis dan menggelandang beberapa hari sambil mencari pekerjaan sekedar untuk makan. Enong memutuskan untuk pulang, itupun setelah diberi ongkos oleh pemilik toko warga Tionghoa yang hendak gulung tikar.

Sesampainya di kampung, lantaran sulit mendapatkan pekerjaan, Enong memutuskan untuk terjun mengikuti jejak ayahnya mendulang timah bersaing dengan para lelaki dengan resiko terkubur hidup-hidup dalam lubang galian. Berhari-hari Enong berendam dalam kubangan lumpur tak juga memperoleh bijih timah, ia pun mencari lahan baru di hutan dan memperoleh sekaleng susu timah, namun malang, para lelaki yang serakah merebut lahan galian Enong.

Sesekali Andrea kembali mengisahkan pengalaman-pengalaman masa kecil saat ikal memberi hadiah ulang tahun pada A Ling mengingatkan pembaca pada buku Laskar Pelangi, perjuangannya mencari A Ling menarik ingatan pembaca pada novel Edensor dan Maryamah Karpov. Dan itu semua ia rangkai menjadi kisah utuh yang saling terkait, melalui novel Padang Bulan ini lagi-lagi Andrea menampilkan gelora cintanya pada A Ling yang diringkus aneka kecemburuan, kalau di novel Maryamah Karpov menampilkan kesungguhan Ikal untuk menemukan A Ling hingga mampu membuat perahu yang meramaikan warga yang doyan taruhan. Kali ini Andrea kembali menampilkan hal-hal konyol lantaran kecemburuannya pada Zinar bos tempat A Ling bekerja, ia bersekongkol dengan detektif M Nur dan Enong untuk menyaingi Zinar dalam pertandingan lomba 17-an, Ikal melawan Zinar bertanding Catur, Pingpong, hingga sepak bola, malangnya catur kalah, pingpong kao, dan sepak bola hanya jadi penonton di bangku cadangan. Perkenalannya dengan Enong yang terobsesi menjadi guru bahasa Inggris membuat Ikal menemukan brosur yang dikoleksi Enong lantaran ada bahasa Inggrisnya, karena Ikal tertarik dengan iklan peninggi badan ortoceria ia mengambilnya diam-diam brosur itu dari Enong, ia tetap terobsesi memberi perhitungan atas kekalahan telak dari Zinar, ia beranggapan bahwa keberpalingan A Ling lantaran tinggi badannya di bawah standar rata-rata atau kurang satu jinjit. setelah mengumpulkan uang dari hasil bekerja di warung kopi pamannya Ikal pun memesan alat peninggi badan ortoceria. Sesampainya alat itu ditangannya, ia tak sabar ingin segera mencobanya namun ia tak mau diketahui siapapun, dipilihnya bangunan tua yang tak terpakai. Malang ia tercekik oleh alat sialan itu, untung ditolong Enong.

Novel pertama dwilogi ini ditutup dengan permintaan maaf detektif M Nur kepada Ikal, karena telah memberi kabar tidak akurat mengenai hubungan Zinar dengan A Ling. Dengan mengajak Ikal ke pasar malam naik komedi putar.

Cinta di dalam Gelas

Sementara di novel kedua Andrea lebih fokus menggambarkan kehidupan sosial di warung kopi, dari mulai cara memegang gelas, selera pahit manis, jumlah porsi yang dipesan, hingga jumlah mengaduk kopi, ia mampu menyimpulkannya dengan berupa-rupa karakter para pengunjung warung kopi, juga kebiasaan mereka main catur dan mengolok-ngolok pemerintah.

Singkat cerita, Enong memiliki suami yang bernama Matarom, Enong sama persis dengan watak ibunya Syalimah yang selama hidupnya hanya punya satu cinta yang ia bawa sampai mati. Begitulah Enong ia dengan mudah memberikan cintanya pada Matarom, namun tak lama berselang Matarom mencampakan dan meninggalkannya begitu saja. Hal ini membuat Enong yang kelak diketahui namanya sebagai Maryamah terobsesi menjadi pemain catur, disamping semangatnya yang terus meletup mengakrabi segala jenis tulisan yang berbahasa inggris.

Ninochka seorang grandmaster catur teman Ikal sewaktu studi di Sourbone dengan gigih menuntun Maryamah tuk dapat bermain catur dengan diagram-diagram yang Ikal kirim melalui e-mail, sehingga Maryamah menjadi perempuan pertama yang berani melawan laki-laki di turnamen 17-an tujuan utamanya yakni ingin mengalahkan orang-orang yang telah melukainya seperti para lelaki yang telah merebut lahan galian timah yang ia temukan juga mantan suaminya Matarom. Etika politik balas dendam yang tak biasa. Para lelaki itupun kalah menelan kenyataan bahwa makhluk yang selama ini mereka anggap lemah telah meruntuhkan harga diri dan kecongkakan mereka.

Itu sekelumit kisah dari dwilogi padang bulan dan cinta di dalam gelas ini. Banyak pesan moral yang dapat kita petik dari novel ini, tentang bagaimana mencintai yang ditunjukan oleh tokoh Zamzami kepada Syalimah dan keluarganya, juga melalui tokoh pamannya Ikal, tentang semangat belajar yang tak kenal henti yang diwakili oleh tokoh Enong atau Maryamah, tentang isu gender yang juga diperankan oleh Maryamah, tentang kontribusi seorang akademisi jika balik kekampung halaman yang diwakili Ikal yang membantu proses belajar Enong atau Maryamah hingga berdampak pada kesetaraan derajat kesamaan hak perempuan.

Membaca novel ini seolah kita menyambangi aneka disiplin pengetahuan yang penuh permenungan. Andrea berhasil membuat eksperimen-eksperimen mengejutkan ada bagian ia menulis bak seorang scriptwriter film holywood. Tak percaya, bacalah…


Penikmat buku berdomisili di serang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar