Sabtu, 12 Februari 2011

RUMAH, SEKOLAH, DAN PELESTARIAN ALAM

Oleh Anas Nasrudin*

Judul : ELIANA: Serial Anak-anak Mamak Buku ke-4
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit, Jakarta
Jumlah Halaman : 519+iv
Cetakan : 2011

Melahap buku ini menyesap ingatan saya akan kampung halaman puluhan tahun silam. Sebelum masuk listrik dan masih banyak berdiri rumah panggung berbahan kayu dan bambu, televisi pun masih hitam putih, pemiliknya masih satu dua keluarga hingga satu televisi di kerubungi tetangga bejubel. sementara untuk keperluan sehari-hari bergantung pada kebaikan alam—aliran sungai dan lahan hutan.

Jalinan kisah di novel ini mengingatkan saya pada karya-karya Andrea Hirata dengan Tertalogi Laskar Pelangi-nya. Kalau di Laskar Pelangi (LP) ada Mahar yang nyentrik terobsesi hal-hal klenik. di novel Eliana ada Marhatop yang terobsesi pada batu-batu alam yang ia tunjukkan pada teman-teman tiap hari di sekolah. Jika di LP ada cerita anak-anak yang memenangkan lomba 17-an berkat ide Mahar, serta Lintang yang mengharumkan sekolah berkat prestasi lomba cerdas cermat. Maka di novel Tere Liye ada Eliana dengan genk Empat buntal yang berhasil mengharumkan sekolah berkat pameran tanaman herbarium dalam rangka mengikuti pameran sekolah tingkat nasional.
Novel dengan cover berlatar ikan buntal yang sedang mengawasi banjir bandang, dua truk di kiri-kanan tergelimpang, pohon kelapa roboh, dan bunga bangkai disudut kiri bawah ini. bercerita tentang “kenakalan” khas anak-anak dengan tokoh sentral gadis berusia 12 tahun bernama Eliana. Eliana yang dibesarkan dengan kasih sayang dan keteladanan tumbuh menjadi anak pemberani dan tegas.

Sayang alur cerita di novel ini sedikit terganggu dengan kesalahan ketik disana-sini. Lih. Hamit—hampir 58, bawa—bawah 58, tepesona—terpesona 66, lantai—lantas 72, erangkat—berangkat 80, hatus—harus 105, kalua—kalau 124, kebetuan—kebetulan 202, emasang—memasang 237, menjawail—menjawil 337, meyakinlan—meyakinkan 347, bapat—bapak 342, siapalah—siaplah 345, sesunggukan—sesegukan 359, pasai—pukat 374, dibanding-badingkan—dibanding-bandingkan 385, ya Alla—ya Allah 393, pak Bing—pak Bin 412, bereekor—berekor 412, menyikut teman Damdas—menyikut lengan Damdas 419, duan-daun—daun-daun 420, memanndang—memandang 436, Pak menatap lembut—Pak Bin menatap lembut 444, gelempbung—gelembung 450, Sekedara-sekedar 476, Aan—dan 483

Rumah tempat Menyemai Cinta-kasih

“Segala sesuatu bermula dari rumah”. Begitu pepatah bijak berpesan. Baik-buruk sang anak di luar rumah tergantung bagaimana pola pendidikan orang-tua di rumahnya. Inilah pesan moral yang dibeberkan oleh Tere Liye. Melalui karakter Mamak dan pak Syahdan yang tegas dan penuh cinta-kasih mendidik empat orang anaknya. Eliana yang sempat kabur lantaran salah paham terhadap mamaknya—beranggapan kalau mamaknya tak bisa memaafkan kelengahannya menjagai ketiga adiknya saat menonton layar tancap—adalah contohnya. Selama 3 hari ngungsi ke rumah Wak Yati pada akhirnya Eliana sadar setelah mengetahui perhatian mamaknya yang ternyata tiap malam selalu memeriksa keadaannya, menanyai dirinya sudah makan apa belum pada Wawak, membenarkan letak selimutnya, lalu pulang setelah mengecup keningnya.

Momen-momen di Sekolah

“Pendidikan bukanlah mengisi keranjang kosong melainkan menyulut nyala api” inilah yang dilakukan Pak Bin guru yang mendidik Eliana dan teman-temannya. Sebagai guru pak Bin selalu berusaha meningkatkan prestasi murid-muridnya. Marhatop si anak pemalas dan kusut pun menjadi encer otaknya semenjak belajar langsung di rumah Pak Bin, hingga posisi Eliana yang sering dimintai bantuan oleh Pak Bin diambil alih oleh Marhatop. Eliana dan Marhatop pun berseteru berburu prestasi. dan itu tak berlangsung lama setelah Eliana mengetahui bagaimana latar belakang keluarga Marhatop dari bapaknya Eliana, Eliana mulai bersahabat dengan Marhatop. Berkat nasehat pak Bin antar Eliana dan Marhatop tidak lagi bersaing saling mengunggulkan diri sendiri melainkan saling membantu proses belajar. Pembelajaran yang disajikan oleh pak Bin selalu menarik antusiasme murid.

Kenangan terindah yang dialami oleh Eliana dan teman-temannya bersama Pak Bin adalah saat ikut serta pameran prakarya sekolah tingkat nasional, meskipun surat undangan yang sampai ke sekolah ternyata salah alamat, karena membawa prakarya herbarium tanaman, sekolah mereka pun diberi kesempatan mengikuti pameran. Pengalaman baru lewat pameran ini membuat Eliana banyak belajar dari apa yang ia lihat dan saksikan. iapun antusias merenda mimpi ingin menjadi pengacara sebagaimana yang ia cita-cita yakni membela kebenaran dan keadilan.

Menjaga Alam

Akibat proyek pengerukan tambang batu-bara, kian hari masyarakat kian dihimpit kesulitan. Sungai tercemar, ikan-ikan seolah hilang, siklus cuaca tak lagi normal, bahkan untuk mencari kayu bakar pun menjadi sulit. Kenyataan ini membuat Eliana dengan genk Empat Buntal terus berjuang mengusir penambang batu-bara dengan berbagai propaganda. Tidak puas dengan mengempesi ban dan menebar paku, pasca hilangnya Marhatop secara misterius setelah ditembak oleh penjaga tambang, Eliana dengan tiga anak lainnya mengubah siasat. Kali ini dengan mengumpulkan sebanyak mungkin tanda tangan dari penduduk sebagai bukti penolakan terhadap keberadaan tambang batu-bara. Namun saat perjanjian ulang kesepakatan, bukti tanda tangan yang Eliana kumpulkan dianggap sebagai kertas rekayasa dan mesti dilakukan penelitian ulang oleh team indefendent. Perjanjian ulang itu hanya menghasilkan pemberhentian sementara proses penambangan selama 3 bulan.

Saat itu Eliana ikut pada rapat perjanjian ulang, tanpa segaja ia mendengar percakapan orang yang telah menembak Marhatop dan bilang masih menyimpan baju dan kalungnya di laci gudang sebagai kenang-kenangan. Ia pun bersama genk berjibaku mengatur siasat untuk mengambil barang bukti itu. Namun malang ternyata semua itu tipu muslihat Johan untuk memperdaya Eliana dan teman-temannya. Eliana dan tiga temannya tertangkap basah saat memasuki areal pertambangan. Mereka pun di sekap di dalam kontainer. Eliana yang mengantongi pisau lipat berhasil memotong tali, namun mereka berempat tak mampu keluar dari tebalnya dinding kontainer hingga berjam-jam. tiba-tiba alam berderak dan terjadi banjir bandang besar yang menghanyutkan Eliana bersama teman-temannya di dalam kontainer. Akhirnya semua terungkap mayat Marhatop di temukan, Johan dijebloskan ke penjara lantaran diduga menyekap anak-anak dan pelanggaran lainnya.

Novel ini mengajak kita untuk kembali belajar mempraktikkan sikap-sikap penuh cinta dan kepekaan. Pada rumah atau keluarga, sekolah atau pendidikan, dan alam atau lingkungan. Wallahu’alam.

*Penikmat buku yang berdomisili di Serang-Banten

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar