Rabu, 25 Februari 2009

David Hume dan Kritiknya Terhadap Agama

oleh: Anas Nasrudin

Pemilihan judul seperti itu bukan tanpa alasan karena apabila saya mengikuti petunjuk silabus selain hampir semua judul sudah diambil oleh teman-teman saya ditambah pula referensi yang tersedia di perpus sangat terbatas maka dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya memberanikan diri membuat judul yang tidak tertulis disilabus walaupun begitu rasanya judul ini masih relevan mengingat Dosen pernah menerangkan mengenai filsafat Empiris, dan David Hume inilah salahsatu tokoh penggagasnya. kalau tidak salah saya juga sempat menangkap ketika dosen menerangkan bahwa dalam studi filsafat itu bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama studi tokoh, misalnya mempelajari salahsatu biografi tokoh filsafat, kedua studi tematik. Mungkin yang saya tulis ini termasuk dua-duanya, studi tokohnya ada yakni sekilas akan saya paparkan prihal biografi singkat David Hume, tematiknya juga ada yakni kritiknya (hume) terhadap agama.

Kehidupan Hume

Kehidupanya hampir tidak ada yang mengejutkan, Hume lahir di Edinburgh Skotlandia pada 1711, dia tumbuh dalam kemiskinan namun berbudaya di tanah keluarga Hume yang bernama Ninewells di dataran rendah Skotlandia, beberapa mil dari perbatasan Inggris, Ninewells oleh penulis biografi Hume digambarkan sebagai “ Tempat paling menyenangkan yang dibayangkan”. Terletak disekitar aliran deras dengan pemandangan indah di sungai White-Adder. Gunung dikejauhan, desa-desa kecil berisi rumah-rumah beratap jerami, dan domba serta ternak merumput di lembah yang mengelilingi bukit.

Beranjak dewasa keluarganya ingin dia mengambil pelajaran hukum tapi dia merasakan “keengganan yang tak tertahankan terhadap apapun kecuali filsafat dan ilmu pengetahuan”. Dia hidup di zaman pencerahan pada masa yang sama dengan masa hidup para ahli pikir besar Prancis seperti Voltaire dan Roussseau. Dan dia banyak melakukan perjalanan mengelilingi Eropa menjelang akhir hayatnya. Karya utamanya sebuah risalah tentang watak manusia ( A Treatice of Human Nature ) diterbitkan ketika Hume berusia 28 tahun tapi dia menyatakan bahwa dia mendapatkan gagasan bagi bukunya itu ketika dia baru berusia 15 tahun .

Sengaja saya memilih judul kritik terhadap Agama karena masih adanya anggapan dikita bahwa agama merupakan sesuatu yang sakral sehingga tidak bisa di ganggu gugat lagi. Imbasnya kehadiran agama tidak lebih hanya merupakan pembodohan bagi perangkulnya, karena dewasa ini segalanya bisa dijual begitu juga agama, yang dalam istilah saya “Mejual Tuhan Membela Setan”. Yakni mengatas namakan kebaikan demi vested interest masing-masing. Semoga dengan menguji- kaji kritik Hume atas agama ini memicu kita untuk senantiasa membenahi cara keberagama-an kita agar lebih baik lagi. Agama adalah akal yang sehat tidak ada agama bagi yang tidak mau mendaya gunakan akalnya.

Kritik Hume atas bukti rasinol mengenai Tuhan.

Seperti yang kita ketahui akal tidak bisa membuktikan Apapun mengenai keberadaan dan persoalan fakta. Akal hanya memberitahu kita mengenai hubungan antar- gagasan. Keberadaan Tuhan bukanlah gagasan yang dengan sendirinya terbukti, juga bukan kebenaran yang bisa ditunjukan secara logis, seseorang bisa saja menyangkal keberadaan Tuhan tanpa bertentangan dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu Hume mengkritik keras ketiga bukti keberadaan Tuhan yang disampaikan Descartes. Dua bukti pertama Descartes mengenai keberadaan Tuhan adalah bukti sebab akibat. Keduanya membuktikan bahwa Tuhan ada sebagai satu-satunya sebab munculnya gagasanku mengenai Dia dan munculnya gagasan mengenai keberadaanku sebagai benda yang berpikir. Namun kita tidak mempunyai kesan indera mengenai Tuhan sebagai suatu sebab, kita juga tidak mempunyai kesan apapun mengenai benda berpikir sebagai akibat. Apalagi, pada kedua bukti sebab akibat mengenai keberadaan Tuhan ini, Descartes mendasarkan diri pada kejelasan dan kejernihan pemikiran bahwa sebab harus sama nyatanya dengan akibatnya. Bagi Descartes gagasan ini sangat jelas sehingga tidak ada pikiran rasional apapun yang bisa meragukannya, namun bagi Hume gagasan ini sangatlah tidak berarti. Gagasan tersebut tidak memunculkan baik landasan rasional maupun empiris untuk kausalitas.

Adapun bukti ketiga mengenai keberadaan Tuhan, yang dimunculkan pada buku Meditation Descartes menggunakan bukti ontologis yang dikemukakan Saint Anselm di abad XI. Bukti itu mengemukakan ide bawaan mengenai Tuhan yang memiliki segala kesempurnaan, dan oleh karena itu pasti memiliki kesempunaan pada wujud-Nya. Bukti ini sampai pula pada kesimpulan bahwa Tuhan itu memang ada. Hume meruntuhkan bukti ini dengan pertama-tama mengingatkan kita bahwa filsuf empirisme seperti John Locke telah menunjukan tidak ada yang namanya ide bawaan, kita hanya memiliki gagasan yang muncul dari pengalaman kesan. Bukti ontologis Saint Anselm mengenai keberadaan Tuhan menyatakan bahwa ide Ketuhanan itu dengan sendirinya terbukti dalam akal pikiran: Tuhan mempunyai segala kesempurnaan, Dia Maha-Tahu, Maha- Kuasa, dan Maha-Baik, oleh karena itu Dia tak mungkin kurang sempurna dalam keberadaan-Nya. Hume menjawabnya dengan uji empiris atas gagasan: jika tidak ada kesan dalam pengalaman, gagasan itu tidaklah bermakna, tak berarti. Namun kita tidak bisa mempunyai kesan indera atas zat supranatural, dengan demikian ide Ketuhanan tidak lulus dalam uji empiris.Hume terus mendesak siapa saja yang berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu ada dengan menggunakan bukti ontologi ini. Bagaimana anda tahu Tuhan mempunyai ciri ini? Dimanakah kesan indera dari masing-masing ciri ini? Berikut ini adalah perkataan yang paling menyakitkan “ gagasan kita tidak lebih dari pengalaman kita. Kita tidak memiliki pengalaman akan ciri-ciri akhirat. Aku harus menyimpulkan silogismeku. Anda bisa menarik kesimpulannya sendiri.” Dengan demikian argumen ontologis klasik yang mencari bukti dengan menggunakan pemikiran bahwa Tuhan itu ada sejak kita lahir dan ide bukti diri mengenai Tuhan telah diruntuhkan.


Kritik Keras Hume Atas Deisme



Satu bukti klasik mengenai Tuhan yang tidak digunakan Descartes dinamakan argumen dari rancangan. Bukti klasik yang berusaha menunjukan keberadaan Tuhan dengan menggunakan akal dipakai oleh Saint Augustine pada Abad IV, dan oleh Saint Thomas di Abad XIII, berlandaskan pada keteraturan, harmoni, dan keindahan yang bisa dijumpai diseluruh alam ini. Keteraturan tidak akan muncul secara kebetulan tetapi mesti dengan rencana perancangnya. Dari premis ini, muncul pendapat bahwa Tuhan itu ada sebagai pemikir utama yang merancanakan dan merancang keseluruhan tata harmoni alam untuk kebaikan umat manusia.

Hume menyangkal dalam Dialogues Concerning Natural Religion, dia menggunakan bentuk dialog Plato untuk menjatuhkan Deisme. Tiga karakter memerankan masing-masing sebagai seorang penganut Kristen yang alim, dan sangat ortodok; seorang pengikut Deisme yang mendukung agama yang alami, rasional dan memiliki keterkaitan dengan sains; serta seorang penganut skeptisme yang meremehkan keduanya. Suara Hume tertuang dalam Philo yang skeptis, yang suka mempermainkan orang, khususnya penganut Deisme yang menyatakan memiliki agama yang alami dan rasional. Kesan dari indera kita, kata Philo si skeptis, menjadi landasan bagi pengetahuan ilmiah kita, dan kesan ini tidak memberikan bukti bagi pernyataan bahwa alam semesta ini secara sempurna teratur dan harmonis, juga tidak menjamin bahwa keteraturan semacam itu akan berlanjut selamanya.

Hume berkata perhatikan dengan seksama dunia ini dan lihat apakah ini merupakan karya arsitek yang Maha Kuasa dan Maha Bisa. Jika seorang arsitek menunjukan pada anda “ sebuah rumah atau istana dimana tidak ada satu ruangpun yang layak ,dimana jendela, pintu, tungku, gang, tangga dan keseluruhan bangunan ekonominya merupakan sumber keributan, kebingungan, kelelahan, kegelapan, dan ekstremnya panas dan dingin, anda tentu akan menyalahkan alatnya…anda akan mengemukakan pembelaan…yakni jika saja arsiteknya memiliki keahlian dan maksud yang baik, mungkin dia telah …. Membetulkan semua atau sebagian besar ketidak layakan ini.”.

Dan dalam alam manusia, tambah Hume, apakah anda menemukan bukti bahwa dunia ini dirancang dengan baik oleh perancang yang baik dan penyayang? Lalu bagaimana anda menjelaskan kesedihan, rasa sakit, dan kejahatan dalam kehidupan manusia?

Perhatikan sekeliling alam ini … perhatikan lebih dekat makhluk hidup ini … betapa mereka saling menjahati dan merusak…. Betapa terkutuk dan jahatnya bagi yang melihat…. Alam yang buta, menyembul dari pengakuan tanpa ada perhatian dan kpedulian, anaknya yang terluka dan buruk.

Argumen ini dalam Dialogue Concerning Natural Religion merupakan kritik paling keras yang di sampaikan Hume terhadap agama Deisme di masa pencerahan. Dia mengajukan pertanyaan, lalu mengapa orang-orang menerima keyakinan keliru mengenai keberadaan Tuhan ini berdasarkan argumen dari rancangan? Ada dua alasan, kata Hume. Orang-orang yang mempelajari keyakinan ini pada masa kecilnya, dan dengan proses sosialisasi mereka terus memegang teguh keyakinan tersebut. Namun bagaimana bisa dijelaskan bahwa keyakinan ini diajarkan pada anak-anak? Apa yang menjadi asal- mula keyakinan agama? Hume menjawab bahwa asal- mula keyakinan pada Tuhan adalah rasa takut, takut akan kematian yang disertai keinginan akan keabadian, rasa takut akan berbagai bentuk kesialan manusia, akar dari agama manusia ada dalam perasaan manusia.

Pembaca yang baik adalah pembaca yang bisa mengikat makna pascabaca.!!!

Referensi

Gaarder, Jostien. 2004. Dunia Sophie, Bandung : Mizan
Lavine, T. Z. DAVID HUME Risalah Filsafat Empiris, Yogyakarta : penerbit jendela

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar