Jumat, 27 Februari 2009

TENTANG BAKAT

Paradigma tentang bakat sudah waktunya direvisi, menyedihkan tatkala seseorang didiskreditkan dengan dalih tidak berbakat, kesempatan untuk mencobapun raib, yang tinggal hanya pemahfuman terpaksa dan pasrah pada nasib.Bisa berkembang syukur, tidakpun tak apa, toh memang tidak berbakat, aduh kasihan betul. Dalam hal ini bakat dibedakan dari spesialisasi termasuk yang berjalin kelindan dengan pemosisian dalam dunia kerja pada umumnya.

Dikalangan orangtua misalnya, tanpa sadar seringkali begitu cepat memberi label anak A berbakat seni, anak B tidak, dan seterusnya sehingga perlakuan pada anakpun menjadi selektif, ada anak yang mendapat porsi kesempatan lebih banyak sementara yang lain diabaikan.

Contoh konkret tersebut tak terkecuali juga merambah pada dunia pendidikan. Berapa persen siswa suatu sekolah punya kesempatan mengekplorasi bakat-bakatnya? Paling-paling tak lebih dari 10 hingga 25 persen, selebihnya dipendam atau mengembangankan dengan cara sendiri yang belum tentu terarah dengan baik, hingga manfaatnya juga nihil.

Definisi bakat yang ditegakkan dalam koridor gugus utama umumnya mengaju pada dua pemahaman. Bakat adalah bawaan, given from God dan bakat adalah sesuatu yang dilatih. Sebelum beberapa definisi dan pendekatan bakat yang juga diungkapkan beberapa ahli, ada baiknya kita yakini satu hal: yakin dan percayalah bahwa setiap insan diseantero jagat raya ini telah memilki bakat berupa anugrah Cuma-Cuma dari Tuhan.

Kiat mengenal empat karunia (4 endowment) atau bakat alami yakni kesadaran diri (self awareness), imajinasi (creative imagination), hati nurani (conscience), dan kehendak bebas (indefendent will). Tanggung jawab utama manusia sebagai penerima mandat itu adalah memberdayakan keempat bakat alami atau talenta, atau karunia tersebut secara maksimal dan optimal. Beberapa istilah kerap dipakai ketika berbicara bakat secara spesifik, antaralain aptitude, talent/talenta, intelligence/intelegensi/kecerdasan, gifted/giftedness, dan sebagainya.

Pada dasarnya istilah-istilah tersebut membawa makna bakat yang berkembang sesuai kebutuhan dan kepentingan. Namun sama-sama mengandung unsur bakat bawaan dan latihan. Misalnya yang dikemukan Renzulli (1981), bakat merupakan gabungan dari tiga unsur esensial yang sama pentingnya dalam menentukan keberbakatan seseorang. Yakni kecerdasan, kreativitas, dan tanggungjawab.

Kecerdasan beserta aspek-aspeknya dapat diukur dengan peranti atau test psikologi, termasuk kemampuan intelektual umum dan taraf inteligensi, aspek-aspek kemampuan intelektual, antara lain mencakup logika abstrak, kemampuan verbal, pengertian sosial, kemampuan numerik, kemampuan dasar teknik dan daya ingat.

Kreativitas menurut Guilfird (1956) dapat dinilai dari ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas, maupun ciri-ciri non aptitude antar lain tempramen, motivasi, serta komitmen menyelesaikan tugas.

Tanggungjawab merupakan pembuktian atau tindakan nyata dari kecerdasan dan kreativitas seseorang terkait dengan pemberdayaan dirinya serta kontribusi bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Pendekatan lain mengatakan bakat adalah kondisi seseorang yang dengan suatu pendidikan dan latihan memungkinkan mencapai kecakapan, pengetahuaan dan keterampilan khusus.

Dalam hal ini bakat merupakan interseksi dari factor bawaan dan pengaruh lingkungan, jadi apabila seseorang terlahir dengan suatu bakat khusus jika dididik dan dilatih bakat tersebut dapat berkembang dan dimanfaatkan secara optimal sebaliknya jika dibiarkan saja tanpa pengarahan dan bimbingan bakat itu akan mati tidak berguna.

Bakat adalah tingkat kemampuan yang tinggi yang berhasil dicapai seseorang dalam keterampilan tertentu, demikian menurut Tedjasaputra, MS (2003). Menampilkan bakat dibutuhkan motivasi kuat yang disebut minat, yakni kebebasan seseorang memilih segala sesuatu yang disukai, disenangi dan ingin dilakukan. Gardner (1993) mengganti istilah bakat dengan kecerdasan saat mengusung teori kecerdasan jamak atau multiple intelligensi yang cukup banyak dipakai.

Sedikitnya ada sembilan kecerdasan atau bakat yang mungkin dimiliki seseorang yakni logical mathematical, linguistic/verbal, visual spatial, musical, bodily-kinesthetic, inrerpersonal, intrapersonal, natural, dan moral/ spiritual. Teori Gardner ini menjadi pegangan bahwa setiap orang memiliki bakat unik yang berbeda. Orang tidak dapat dipaksa berprestasi diluar bakat khusus yang paling menonjol pada dirinya.

B. Konsep Keberbakatan

Dari pengalaman banyak orangtua yang tergabung dalam komunitas milis anakberbakat@yahoogroups.com, merasa sedih mengadapi anak-anaknya. Saat masih balita banyak yang mendapat diagnonis autisme atau ADHD. Menerima berbagai terapi dan obat-obatan, kenyataannya saat beranjak umur ia mempunyai prestasi yang baik dibeberapa bidang keilmuan, hobi yang sangat baik dalam musik, menggambar dan desain.

Ia pun keluar dari kriteria sebagaimana diagnosisnya. Beberapa diantaranya memang masih mengalami kesulitan yang perlu penanganan khusus karena mngalami learning disabilities (gangguan belajar), ketertinggalan perkembangan sosial, dan masalah emosinal.

Ambil contoh Tomo, putra dari ibu Wasitowati dari Tegal, masa kecilnya yang terlambat bicara pernah dianjurkan operasi telinga untuk implantasi cochlea. Karena tidak mempunyai uang operasi itu tidak dilaksanakan. Kemudian ia dianjurkan masuk asrama anak bisu-tuli di Wonosobo.Karena si ibu merasa kasihan, ia mencari opini lain, tapi Tomo mendapat diagnosis lain, bukan tuli karena memang mulai bisa bicara saat usia 4 tahun, diagnosis berganti dengan autisme dan harus mendapat terapi.
Saat berusia 5 tahun sekali lagi ia menjalankan test psikologi pada seorang psikolog yang menspesialisasikan pada anak gifted, nyatanya ia memiliki potensi giftedness (keberbakatan) dengan inteligensia sangat baik yang selama ini tidak menjadi pertimbangan. Kini ia duduk di sekolah dasar dengan prestasi yang baik. Mengingat hal ini, bu Wasitowati selalu saja menarik napas, ngenas.

Kisah seperti ini bukan hanya melanda Indonesia, tetapi hampir menyeluruh diseluruh dunia. Disetiap kongres dan seminar internasional tentang gifted children selalu saja dihadirkan sesi yang membicarakan kekeliruan diagnosis ini. Usulan agar perkembangan anak-anak ini menjadi diagnosis pembanding gangguan perkembangan autisme atau ADHD, selalu saja dikumandangkan oleh banyak psikolog terkenal di dunia. Tetapi hingga kini belum ada kriteria pembanding yang di gunakan oleh pihak psikiatri, yang pada akhirnya anak-anak ini bila masuk keruang dokter atau psikolog klinik akan mendapat diagnosis itu.

Mengapa hal ini terjadi? Dimana peranan psikolog sebagai propesi yang semestinya mampu mendeteksi sedini mungkin agar musibah kesalahan dignosis dapat dihindari? Dari sisi deteksi anak gifted, keribetan ini, awalnya adalah dari konsep gifted yang selama ini digunakan berdasarkan teori The Three Ring dari Renzulli (Amerika) bahwa seorang anak gifted adalah yang mempunyai inteligensia di atas rata-rata (di atas 130); motivasi dan komitmen terhadap tugas yang tinggi;serta kretivitas yang tinggi.

Konsep ini juga masih digunakan dalam pengembangan anak-anak berbakat (gifted) Indonesia. Dalam konsep ini, anak gifted adalah yang mempunyai prestasi baik dan ber-IQ diatas rata-rata. Anak gifted muda terutama highly gifted mempunyai tumbuh kembang yang krusial yang dalam berbagai tesnya tidak mungkin mencapai itu semua karena tengah berkembang. Ia mengalami ketidak sinkronan perkembangan yang dapat memungkinkan berbagai perkembangannya mirip dengan berbagai gangguan prilaku, emosional, bahkan gangguan mental, bahkan giftednessnya tertutupi oleh masalahnya.
Hal serupa pernah terjadi di Belanda tahun 1970-an saat diagnosis minimal brain damage tengah trendi. Anak-anak itu masuk dalam panti-panti, pusat revalidasi, atau sekolah-sekolah khusus untuk anak yang sangat bermasalah, saat dilakukan evalusi inteligensia, anak-anak ini mempunyai giftedness yang tidak pernah menjadi bahan pertimbangan. Sejak itu dilakukan penelitian panjang terhadap anak-anak ini yang hasilnya melengkapi teori renzulli menjadi Triadik Renzulli-Monks yang dipublikasikan tahun 1986.

Dengan adanya teori ini, konsep gifted berubah, ia menjadi konsep multidimensional dan dinamis karena menyangkut selain perkembangan inteligensia (kognitif) juga karakteristik personalitasnya, tumbuh kembangnya dan lingkungannya,
Perubahan lain juga menyangkut yang semula giftedness sebagai produk kini giftedness sebagai potensi, potensi ini tidak akan terwujud jika tidak didukung oleh lingkungan bagaimana mendeteksi dan menanggapinya, pengasuhan dalam keluarga, dan pendidikan disekolahnya.

Kini konsep ini telah digunakan oleh banyak negara maju di dunia dan deteksi dimulai sedini mungkin saat sebelum usia taman kanak-kanak, tanpa harus menunggu bahwa ia telah mampu menjalankan tes IQ yang aturannya dilakukan di atas 6 tahun.
C. Peranan Sekolah dalam Mengembangkan Bakat Siswa.
Sebelum menyindir masalah terkait dengan peranan sekolah dalam pengembangan bakat/kreativitas siswa ada baiknya kita menyimak pernyataan Niell sang pelopor sekolah bebas Summerhill school, ia berujar:
Sejumlah penulis coba menilai pemikiran-pemikiran saya dan penerapannya, seringkali dengan asumsi bahwa saya adalah seorang guru. Saya dikritik karena tidak memberikan sumbangan apapun bagi para guru, karena saya tak menawarkan solusi bagi sekolah-sekolah yang terlalu banyak muridnya dan acap kasar. Karena saya tidak suka dengan organisasi, ujian atau metode pengajaran. Kritik-kritik ini tepat andaikata saya adalah guru- yaitu orang yang memberikan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan membimbing para murid.

Saya menolak disebut sebagai guru dalam pengertian sekarang yaitu dewa palsu. Dia menjadi fokus, memerintah dan dipatuhi, menjatuhkan hukuman, dan memonopoli pembicaraan.Saya lebih senang disebut sebagai orang yang sepenuhnya percaya pada manusia. Saya meyakini bahwa perkembangan emosi anak akan jauh lebih penting ketimbang kemajuan intelektualitasnya, saya berusaha memperlihatkannya dengan selaksa pesimisme bahwa sekolah-sekolah pada umumnya mangabaikan emosi anak dan membiarkan emosi mereka dipengaruhi oleh pihak-pihak luar: pers, kata-kata dan gambar-gambar vulgar dari radio dan TV, setumpuk majalah yang selalu menggiring pembacanya untuk memperoleh nilai sempurna, guru-guru tak dapat melihat kayu dibalik pepohonan, kayu yang berarti kehidupan yang jembar terbebas dari pembentukan karakter.

Dari pernyataan Niell diatas kita mencium keteguhan Niell dalam mempertahankan ide sekolahnya yang memberi kebebasan penuh pada para peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing, ia menyayangkan sikap para guru yang dingin dan mastautin dimenara gading.

Peranan sekolah hingga detik ini masih banyak dipengaruhi oleh landasan lama, yang menganggap pembelajar sebagai konsumen, berdasarkan prestasi individu, pengkotak-kotakan (orang dan pokok masalah), kontrol birokrasi terpusat, guru sebagi pelaksana program, belajar bersifat verbal dan kognitif. Sudah saatnya kita beralih kelandasan baru yang lebih mencerahkan. Yang memposisikan pembelajar sebagi kreator, didasarkan pada kerjasama dan prestasi kelompok, kesalingterkaitan, belajar sebagai aktivitas pikiran/tubuh, dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kaya pilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar.

Pengembangan bakat yang optimal dan maksimal pada akhirnya hanya akan terwujud jika sekolah membuka peluang seluas-luasnya terhadap minat dan bakat murid yang kaya warna. Sebagian besar pendidikan di sekolah tidaklah berguna, hanya buang-buang waktu, energi, dan kesabaran. Pendidikan sekolah merampok hak anak untuk bermain, bermain, dan bermain, dan membebani anak. Pendidikan tak memperhitungkan motivasi anak, kehendak mereka untuk bermain, keinginan mereka untuk bebas, untuk menghindari pembentukan karakter oleh orng dewasa yng bahkan tak tahu bagaimana dirinya harus hidup. Sekolah yang baik yaitu sekolah yang bebas dan mencerahkan adapun metode dan caranya tidak ada hasil final mesti mengikuti konteks dan perkembangan peradaban umat manusia yang sarat dengan percepatan.

REFERENSI


Niel, AS, Summerhill School Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, (Jakarta: PT.Serambi Ilmu Semesta 2007)
Meir, Dave. The Accelerated Learning Handbook (Bandung: Kaifa 2002
http//www.sinarharapan.co.id/0701/26/ipt02.html
http://www.vitriyaenpa.com/articles/16/1/tidak-ada-orang-yang-tak-berbakat/page1. html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar