Kamis, 06 Januari 2011

SANG PENCERAH: KRITIK ATAS RITUALITAS

Oleh : Anas Nasrudin*

Judul : SANG PENCERAH: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan. Bandung
Tebal : 461 + xviii
Cetakan : iii (Okt 2010)

Novel sang pencerah merupakan novel kedua Akmal Nasery Basral yang ditulis berdasarkan scenario film setelah novel Naga Bonar Jadi 2. Semenjak memutuskan hengkang dari dunia jurnalistik dan berfokus menyelami ranah non jurnalistik, novel kedua ini adalah pembuktian akan produktivitasnya dalam menulis. Berbeda dengan novel yang diangkat berdasarkan scenario pada umumnya, Akmal tidak hanya memindah-mediakan dari wilayah visual film kedalam entepan kata dalam lembaran kertas, melainkan ia berusaha memperkuat dan memperdalam materi cerita dengan penggalian referensi yang kaya. Sehingga para penikmat film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo akan mendapat suguhan yang berbeda saat membandingkan film dengan membaca novel ini.

Saat menelusuri lembar-perlembar halaman buku novel sang pencerah ini, terasa betul sosok dan watak Ahmad Dahlan yang kritis dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi, dengan santun ia mengugat dan mempertanyakan tradisi ritual yang kadung berurat akar di masyarakat kala itu, seperti acara padusan dan kirim doa kepada orang yang telah meninggal, agar masyarakat tidak terkungkung oleh ritual tradisi yang memberatkan. Dengan kemampuan yang ia miliki Dahlan juga selalu berusaha mengayomi masyarakat kecil, seperti memberi makan dan menyekolahkan pengemis dan gelandangan yang ditemuinya di jalanan. Tak hanya itu dengan piawai Akmal mampu menghadirkan kisah perjalanan hidup Ahmad Dahlan yang penuh konflik dan perlawanan dalam memperjuangkan organisasi Muhammadiyah. Sebagian orang menggugat bahwa novel ini bukan merupakan novel sejarah. namun terlepas dari itu semua, suatu karya sastra bukanlah kitab sejarah yang diperuntukkan bagi kepentingan para peneliti semata, melainkan suatu karya tulis yang dibuat untuk membeberkan pesan moral bagi pembacanya.

Melalui novelnya ini, seolah Akmal hendak menjawab kompleksitas problematika sistem keberagamaan yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. terutama menyangkut tiga hal, yakni; Tentang polemik pergeseran arah kiblat, kekerasan atas nama agama, serta wajah muram dunia pendidikan Islam.

Tentang Polemik Pergeseran Arah Kiblat.

Sekitar pertengahan 2010 masyarakat muslim Indonesia dibuat resah dan bingung oleh fatwa MUI yang mengintruksikan perbaikan arah kiblat yang dianggap telah melenceng beberapa dejarat dari arah yang seharusnya. Ada yang manut, ada pula yang bertahan dengan keyakinan bahwa shalat bukan semata-mata kearah mana kita menghadap melainkan hati yang tulus ikhlas menghadirkan Tuhan di saat shalat.

Melalui tokoh sentral Ahmad Dahlan, secara halus Akmal mencoba meluruskan kekeliruan pemikiran seperti itu, jika Nabi saja diperintahkan Allah merubah arah kiblat dari Yerusalem ke Makah dan beliau manut, itu artinya Allah telah memposisikan Kabah sebagai tempat atau arah yang akan mempersatukan muslim seluruh dunia. Sulit dibayangkan apabila penganut Islam shalat menghadap kearah sekehendak hati masing-masing. Sekali lagi ka’bah bukanlah Tuhan tempat kita menyembah, melainkan titik fokus untuk mempersatukan umat.

Kekerasan Atas Nama Agama

Sebagaimana telah kita ketahui, kehadiran agama merupakan solusi atas kompleksitas problematika kehidupan manusia. Namun dalam banyak kasus justru kebalikannya yang mencuat kepermukaan, hanya karena perbedaan paham dan keyakinan suatu kelompok agama harus menghancurkan kelompok lain, sehingga perbedaan yang diisyaratkan Rasul sebagai rahmat tumbuh berkembang menjadi laknat.

Akmal kembali menyindir akan hal ini dengan menceritakan bagaimana langgar kidul tempat belajar mengajar Ahmad Dahlan bersama murid-muridnya harus dibongkar paksa oleh kelompok pembesar Masjid Gedhe hingga rata dengan tanah, lantaran sedikit bersebrangan paham. Sikap kritis Ahmad Dahlan dianggap telah menggoyahkan tatanan masyarakat yang telah ada. Bahkan secara sadis oleh sebagian masyarakat kala itu Ahmad Dahlan diklaim sebagai kyai kafir yang mengajarkan kesesatan.

Rupanya hal ini masih kerap terjadi hingga hari ini. Dengan dalih atas nama agama, orang melegalkan tindak kekerasan yang jelas-jelas mengganggu stabilitas dan ketentraman masyarakat. Merasa dirinya paling benar dan merendahkan yang berbeda, memposisikan diri sebagai ahli surga dan yang lain di neraka. Merendahkan martabat Tuhan dibawah egoisme liberal manusia.

Apabila para pemeluk agama mau berpikir terbuka dan menyederhanakan persoalan, agama tak lebih ibarat menu-menu yang ada di restoran. Dimana Tuhan sebagai pemilik restoran, para pramusaji sebagai nabi, malaikat, dan utusan penyampai pesan, dan draf menu sebagai kitab suci pedoman, sedangkan kita pemeluk agama sebagai konsumen.
Jadi agama hanya soal selera, kita tidak bisa saling memaksakan. Tugas kita selaku konsumen atau pemeluk agama adalah duduk bareng dalam satu meja menikmati menu sesuai selera masing-masing sambil berembug mencari solusi atas permasalahan kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, dekadensi moral, korupsi, dan segala bentuk permasalahan sosial lainnya. Karena itulah inti kehadiran agama. Solusi aneka persoalan hingga akhir zaman.


Wajah Muram Dunia Pendidikan Islam.

Akhir-akhir ini banyak diberitakan sikap kasar seorang guru dalam mendidik muridnya, bahkan tak jarang ada guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya, padahal merupakan guru agama. Patut disayangkan guru yang seharusnya digugu dan ditiru malah memberi kesan hal yang tidak baik pada anak didiknya.
Akmal pun kembali menyentil hal ini dengan menceritakan bagaimana kepiawaian Ahmad Dahlan dalam menyampaikan materi keagamaan yang sederhana dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi murid-muridnya. Dahlan mampu menyampaikan pesan keislaman melalui kelihaiannya menggesek dan memainkan biola, sebagaimana keindahan suara biola yang dimainkan oleh ahlinya begitu pun dengan Islam, indah, damai, dan menyejukan hati. Sebaliknya saat biola diserahkan kepada sang murid yang tak bisa memainkannya maka suaranya pun menyakiti telinga. Ibarat Islam yang disampaikan oleh orang yang kurang memiliki pengetahuan maka akan terkesan angker, keras dan menakutkan, yang berujung pada kesesatan.


Dilain cerita, Akmal memberi pesan tentang sikap bijak seorang guru menghadapi muridnya melalui kentut yang terdengar dari murid Ahmad Dahlan kala itu, alih-alih marah sebagai guru Dahlan justru mampu membahas itu menjadi tema yang menarik, sehingga para murid menjadi sadar akan pentingnya bersyukur dan menjaga etika sopan santun. Kentut pun menjadi sesuatu yang berharga untuk disyukuri.
Terakhir Meminjam komentar Abdul Mu’ti novel ini layak dibaca bagi para pendidik, orangtua, tokoh agama, dan siapa saja yang ingin menimba kearifan. Wallahu’alam.

* Penulis adalah Penikmat Buku, berdomisili di Serang-Banten

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar