Rabu, 25 Februari 2009

PEREMPUAN PENEBAR KEBAIKAN

Oleh : Anas Nasrudin

Aku mengenalnya tanpa sengaja. Saat itu ia sms nyasar dan sedikit curhatin masalah yang dihadapinya dalam smsnya ia mengatakan punya masalah dengan seorang lelaki yang hendak meminang dengan terus-terusan membujuk dan terkadang menerornya. Namun lelaki tersebut sudah memiliki istri, ia hendak datang dengan sejuta janji manis. Aku hanya bisa menyarankan agar ia memutuskan masalahnya dengan pikiran matang dan hati jernih, karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci, kian hari kami semakin dekat dan sering curhat sampai akhirnya masalah besar menimpanya ia digrogoti penyakit yang misterius. Dokter yang satu mengklaim gangguan ginjal dan menyarankan untuk segera dioperasi, namun dokter yang lain mengatakan tidak terjadi apa-apa dan sehat-sehat aja hal ini tentu mengganggu kestabilan psikologisnya. Kondisi tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya seolah ia sama sekali tak mempedulikan penyakit yang ia derita ia begitu yakin akan kuasa-Nya, baginya semua itu adalah ujian Tuhan yang mesti ia jalani. Ia tetap masuk kuliah hingga tak jarang harus beberapa kali ambruk pingsan, sikapnyapun aneh ia sering bengong dengan tatapannya yang kosong selidik punya selidik ternyata penyakit yang ia derita merupakan penyakit misterius kiriman orang yang sakit hati karena cintanya ditolak, aku sebagai orang awam yang sama sekali tidak mengerti masalah dunia mistik tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya padahal aku tidak tega melihat penderitaanya. Dan secara kebetulan ada salah seorang temanku yang sedikit mengerti masalah ini, dengan tulus ikhlas dia terus berusaha membantu mengobatinya. tapi ternyata guna-guna itu berantai setelah ia sedikit sembuh guna-guna itupun mengenai bapaknya. Hingga bapaknya tidak mampu berjalan karena menderita sakit yang aneh dikedua telapak kakinya.
Maaf aku sampai lupa mengenalkannya ia bernama Muslimaturosyidah namun orang tuanya memendekkan namanya menjadi Emus Rosida wanita inspirasi dalam hidupnya adalah Fatimah Az-Zahra putri kesayangan baginda Nabi besar Muhammad saw, hingga teman-teman satu kost-annya terbiasanya memanggilnya dengan julukan Zahra, Zahra sosok pribadi yang sederhana dan gigih, wajahnya selalu mengurai senyum kepada semua orang yang bertemu dengannya, padahal beban hidupnya begitu berat dibalik keceriaannya ada beban yang memberatkan hatinya. Pernah ia berencana berhenti kuliah demi adiknya yang berada di Jawa hendak masuk kuliah, belum lagi adik-adiknya yang masih duduk di Sekolah Dasar, SMP, dan SMA. Waktu dirumah sakit saat menunggui bapaknya ada seorang pasien yang keluar dari ruangan dengan membawa botol impusan ditangannya hendak keluar ngambil obat diapotik karena sang pasien hanya sendirian, tanpa pikir panjang emus langsung membantunya mengambil obat keapotik dan menyuruh sang pasien ketempat tidurnya padahal kenal sedikitpun tidak. Ia selalu ringan untuk membantu orang yang membutuhkannya.
Saat waktu libur kuliah ia selalu mengurusi anak-anak di madrasah diniyah awaliyah (MDA), ia sangat menyayangi anak-anak, hingga anak-anakpun seolah sudah menyatu dengannya, disamping itu apabila ada acara-acara kenaikan kelas disaat teman-teman satu alumninya hadir menyaksikan pagelaran acara sekaligus ketemu kangen dengan sesama alumni ia malah sibuk menunggu warung milik tetehnya. Padahal aku tahu kondisinya sedang sakit namun ia tidak pernah mau menunjukan apa yang ia derita kepada orang lain, hanya aku teman curhat yang mengetahui keadaannya, hingga keluarganyapun kadang tak tahu, tahu tahu saat dia pingsan kecapean, dimatanya hanya ada keluarganya, ibunya yang semakin dimakan usia, bapaknya yang tak kunjung sembuh dari penyakitnya, biaya sekolah adik-adiknya, ia terkadang sengaja membohongi ibunya mengaku lagi libur kuliah demi mencari untuk uang SPP adik-adiknya, sekolah MDA yang ia rintis bersama teman-temannyapun 100% gratis padahal keadaan perekonomian keluarganya sangat membutuhkan uang, namun ia benar-benar marah dan sedih saat ada sebagian guru yang mengkomersilkan (memungut uang bayaran dari siswa) sekolah yang ia bangun bersama teman-temannya. Semua yang ia kerjakan adalah bukti cinta dan kepeduliannya terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu dilingkungan sekitar tempat tinggalnya. Di zaman kini sungguh langka perempuan sepertinya. Yang tanpa kenal lelah mendedikasikan dirinya untuk kepentingan sosial tanpa mengharapkan imbalan materi dan penghargaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar