Kamis, 06 Januari 2011

GURU KOK ALERGI BUKU…?!

Oleh: Anas Nasrudin*

Tiga hari sebelum berlangsungnya acara. Gol A Gong sudah mengingatkan saya untuk ikut ke Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang. pada acara diskusi dihadapan 2000 calon wisudawan Universitas Terbuka yang akan diselenggarakan senin 29 November 2010. Minggu malam ba’da maghrib, saya, Gol A Gong, Muhzen Den (relawan Rumah Dunia) dan Pendi (supir pribadi Gol A Gong) berangkat membawa sekitar 200 buku terbitan Gong Publishing untuk dijual. Awalnya saya pesimis mengingat yang akan hadir menurut saya adalah orang-orang tua yang hanya mengejar pendidikan sebagai tuntutan karir agar memperbaiki status golongan yang berimbas pada kenaikan gaji. Sedari awal saya memprediksi bahwa mahasiswa jenis ini sangat jauh dari buku atau iliterer. Namun karena quota yang akan hadir cukup besar maka saya berbesar harapan setidaknya dari 2000 peserta saya memprediksi minimal ada 15 % yang akan membeli.

Sepanjang perjalanan menyusuri kilauan lampu jalanan pikiran saya terus berkecamuk mencoba menghitung peluang laku tidaknya buku esok pagi. Sekitar 2 jam perjalanan setelah beberapa kali menanyakan rute perjalanan kami sampai juga di kampus UT. Terlihat dari jalan, kampus UT terkesan kecil ditambah pintu gerbang yang sedang tahap renovasi menambah kesan bahwa banguan gedung UT tak akan beda jauh dengan gedung IAIN SMH Banten atau Untira. Tapi sesampainya didalam kami tercengang disuguhkan oleh bangunan megah dengan areal yang luas dan nyaman. Kami langsung disambut dan ditempatkan di wisma 2. sementara buku-buku untuk didisplay esok hari sudah ditaruh di dalam aula. Malam merambat pelan, di dalam kamar kami masih menonton televisi sambil mengkritisi kesemrawutan negeri. Sekitar pukul 01.00 pagi. Masing-masing dari kami mundur teratur dibuai mimpi.

Esoknya ba’da shalat subuh, sambil sarapan menikmati popmie saya melihat ke bawah dari kaca jendela kamar, terlihat para pedagang mengeliat bergerak mencari tempat yang strategis untuk mendisplay dagangannya masing-masing. Saya bersama Muhzen Den setelah sarapan langsung turun untuk menata buku-buku yang kami bawa. Setelah meminta saran pada satpam, kami pun memutuskan mendisplay buku di samping depan aula sebelah kanan. Mengingat arah pandang para pengunjung akan lebih leluasa melihat buku yang kami display dari berbagai arah.

Matahari merangkak naik, hari semakin siang. Para peserta gladiresik berdatangan disambut oleh para tukang photo yang sigap membidikkan kameranya. Saya bersama Muhzen Den bergantian menyebar leaftlat Ode Kampung 4 yang sengaja kami bawa. Satu dua orang mencoba melihat-lihat buku kemudian pergi tanpa minat. Menjelang Dhuhur para pedagang merangsek mendekati aula hingga membuat para satpam harus berteriak-teriak mengusirnya ketempat semula, sementara tukang photo tadi pagi terlihat sudah membawa photo-photo yang telah dicetak dan memburu serta mencocokkan dengan wajah orang-orang yang dibidiknya tadi pagi. Hingga Dhuhur menjelang dan para peserta makan siang, hanya ada dua orang yang tergerak membeli buku kami. Tiba-tiba turun hujan lebat dan angin kencang datang, membuat kami terpaksa berkemas merapihkan buku-buku agar tidak kehujanan.

Memang ironis, tapi inilah cermin pendidikan dikita, bayangkan dari 2000 peserta yang hadir notabenenya guru hanya 2 orang yang membeli buku. Hal ini mencuatkan pertanyaan besar, bagaimana mereka mengajar dan menyampaikan apa kepada peserta didik?

Rasanya kita mesti merombak total sistem pendidikan ini. Agar pendidikan tidak hanya jadi lahan bisnis dan lahan politik penguasa belaka. Bagaimana tidak mesti dirombak, jika budaya literasi yang mestinya hadir dan tumbuh dari lingkungan kampus sebagai jenjang tertinggi pendidikan justru mengkhawatirkan seperti ini.
fenomena diatas membuat saya ingin menyampaikan uneg-uneg tentang beberapa hal yang menurut saya mesti dirombak menyangkut sistem pendidikan sesat yang kadung berurat akar.

Pertama hilangkan pembelajaran yang mengandalkan buku paket atau diktat yang dibatasi. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan sejatinya adalah proses interaksi multi-kecerdasan antara pendidik dengan peserta didik. Buku paket biasanya menjadi satu-satunya rujukan yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik. Kondisi seperti ini tak ayal mengerangkeng kreativitas dimana soal-soal dan jawaban-jawaban terjadi penyeragaman. Semestinya setelah silabus atau RPP matang dibuat, para pendidik berikut peserta didik diberi kebebasan mencari berbagai media atau sumber belajar dari buku dan media apa saja secara bebas sehingga ruang kreativitas terbuka lebar dan proses pembelajaran menjadi penuh warna bukan penyeragaman.

Kedua tak ada guna sertifikasi. Sertifikasi hanya akan menumbuhkan guru-guru robot yang terpaksa oleh kebutuhan, tak sedikit saya temui guru-guru yang pontang-panting mengajar kesana kemari hanya untuk mengejar sertifikasi, sehingga sekolah hanya menjadi alat untuk memenuhi tujuannya, seminar-seminar hanya menjadi basa-basi mengumpulkan sertifikat.

ketiga ganti tugas akhir kuliah dengan menyetorkan buku yang telah diterbitkan oleh penerbit, bukan semata-mata skripsi yang dibimbing dan diuji dosen. Ini mungkin terkesan berat, tapi mesti dilakukan demi penyelamatan kondisi pendidikan. Saya berani mengatakan bahwa skripsi sekarang ini, di kampus manapun tidak 100% benar-benar digarapkan dengan serius, tak sedikit mahasiswa yang meraih sandang gelar sarjana tanpa benar-benar paham skripsi yang ditulisnya.

Dengan menugaskan para mahasiswa menyetorkan buku yang berhasil dia terbitkan pada penerbit yang tersebar di Indonesia, dengan sendirinya para sarjana akan belajar bagaimana sulitnya menembus sistem penerbitan, lebih akrab dan belajar langsung dengan dunia perbukuan. Sehingga tak ada lagi sarjana yang benar-benar menjadi pengangguran tingkat tinggi, minimal seorang sarjana bisa menjadi penulis setelah keluar dari kampusnya.

keempat jenjang pendidikan dihilangkan saja, karena belajar tak kenal akhir. Pemerintah cukup memfasilitasi aneka kebutuhan perlengkapan pendidikan sesuai yang ditargetkan, biarkan masyarakat belajar bersama-sama sehingga anak kecil bisa belajar dari orang dewasa. Dan orang dewasa mampu memahami jiwa kanak-kanak. Karena belajar adalah kehidupan keseharian itu sendiri. Yakni pergulatan hidup dengan lingkungan alam dan sesama manusia.

kelima belajar tak melulu dari orang, melainkan menggali sumber bahan bacaan. Tradisi ini yang banyak luput dari perhatian kita, dimana proses pembelajaran umumnya biasa dilakukan melalui proses tatap muka. Peserta didik mendengarkan pendidik menjelaskan. Sehingga sehebat apapun kecerdasan dan kemampuan peserta didik tetap berada dibawah kendali seorang pendidik atau di anggap lebih bodoh dari sang pendidik.


Semoga ceracauan saya ini dibaca oleh mereka yang merasa menjadi guru. Tanyakan pada diri masing-masing. Guru alergi bukukah anda?

* Penulis adalah Alumni IAIN SMH Banten kini belajar sekaligus menjadi relawan di Rumah Dunia.


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar