Rabu, 25 Februari 2009

Cafe Mr Black

Oleh: Anas Nasrudin

Tubuhku yang kurus berbaring lemah beralaskan kasur tipis milik temanku yang terlihat seperti baru kembali setelah sarungnya diganti, tangan kananku yang keriput melampaui usiaku menggenggam handphone membaca SMS-SMS yang sudah berkali-kali kubaca, mataku yang lelah seolah kaca pembesar yang meneliti huruf demi huruf yang tersimpan di pesan masuk, berulang kali aku menghela napas panjang setiap kali mengingat seseorang yang mengirim sandek (pesan pendek)
Gerimis kecil tak menyurutkan langkahku, kuberjalan gontai pikiranku menerawang membayangkan sosok seseorang yang akan ditemui di alun-alun pandeglang, ditepi jalan langkahku terhenti meraba saku, mengeluarkan handphone melihatnya sambil tersenyum kemudian melanjutkan langkahku menyebrang jalan dan akhirnya masuk ke sebuah warung makan atau warteg, keadaan warteg terlihat lengang hanya ada dua orang pelayan yang sedikit bengong menunggu pembeli.
“makan mbak…..,” suaraku membuyarkan lamunan pelayan
“eh…., iya makan di sini a…? tanyanya, aku hanya mengangguk mengiyakan. Mataku tetap tertuju kepada ponselku tanpa menoleh sedikitpun.
“makannya sama apa a….?” tanyanya lagi.
“Oreg, telor asin kasih kuah aja dikit” jawabku yang masih ngetik huruf tuk membalas SMS yang belum sempat dibalas.
Aku makan begitu lahap karena sedari pagi perutku belum diganjal. Setelah makan dan menyodorkan uang empat ribu perak aku kembali nyebrang jalan. Rintik-rintik gerimis membuatku ragu untuk berangkat kalau-kalau ditempat temanku hujan lebat sehingga dia tidak bisa menemuiku untuk memastikan aku kembali SMS
“Nay, disni sdikt grimis dsna hujan ga? Aku sich ga pa-pa ujan jga naik kopas ini”. Sekitar lima menit baru ada balasan.
“Ydh gpa-pa kmu jln aja nay tnggu di café mr black inget nay pake baju pink kudung putih celana panjang putih, ati-ati ya”. Suaranya diujung sana menyemangatiku
Aku masih mematung ditepi jalan Susana hati dan perasaanku dilingkupi penasaran dan penuh harapan. Sampai akhirnya suara sang supir dengan setengah berteriak menghentikan lamunanku. “Pandeglang……pandeglang”. Tanyanya sambil menolehku, tanpa komentar aku langsung naik. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap kosong keluar kaca mobil. Hatiku masih diliputi harap-harap cemas, aku duduk di sebelah kiri belakang dekat salon soundsystem tipe recorder mobil, didepanku terlihat seorang pemuda yang tidak terpaut jauh usianya denganku yang dari penampilannya tampaknya ia sudah bekerja diluar kota dan hendak pulang menemui saudara-saudaranya di Desa. Sekitar 45 menit mobil yang kutumpangi sampai tujuan.
Udara yang dingin selepas hujan masih terasa, sambil berjalan tergesa-gesa mengindari tawaran tukang ojeg yang seolah seharian belum dapat penumpang, mataku yang sedikit ngantuk selalu memperhatikan nama-nama lisplang setiap toko mencari sebuah nama tempat yang telah dijanjikan. Namun hingga persimpangan jalan nama itu tidak juga kutemukan. Aku cepat-cepat menyebrang jalan tepat didepan biomed aku berdiri kebingungan disebrang jalan disebuah warung kecil beberapa tukang ojek menatapku heran, tiba-tiba ponselku berdering.
“ Din ….. ada dimana dah nyampe blm?” Suara diseberang sana membuatku semakin panik
“ duh… nay ga tau nih mungkin aku nyasar kali?! Aku ada dibiomed nih, kamu bisa nemuin aku kesini ga?”aku berharap ia bisa menemuiku yang sepi kebingungan sendirian.
“ atuh itu mah masih jauh, din naik angkot aja turun di alun-alun cari aja kantor dinas pariwisata nay ada didekat situ.”dari suaranya ada nada kekesalan
“ iya…. Iya din segara kesana” setelah memutuskan pembicaraan aku kembali menyebrang jalan, berjalan dengan ragu menghampiri para tukang ojeg yang sedari awal memperhatikanku
“ maaf…… numpang naros upami café mr.black the palih mana nya?” tanyaku yang masih dilingkupi kecemasan
“ oh….. café mr.black mah dialun-alun de… tebih keneh ti dieu mah” kata seorang tukang ojeg semabil menunjukan arah jalan.
“ makasi ya pak” sahutku sambil sedikit membungkukan badan. Aku kembali berjalan menyusuri jalanan aspal yang basah bekas guyuran hujan. Mobil-mobil angkot nampak berjejer menambah macet jalur lalu lintas, langkahku terhenti disamping mobil losbak yang biasa dipergunakan tuk membawa barang dagangan di pasar. Aku menoleh kebelakang menunggu angkot yang berjalan lambat cari-cari penumpang, sambil menunggu mobil lewat aku kembali menatap kedepan memperhatikan puluhan kendaraan roda dua yang terparkir hampir ketengah jalan raya. Sulit mencari ketertiban. Kata itu melintas begitu saja dibenakku. Mobil yang kutunggu merapat mendekatiku sang sopir menoleh kearahku, tanpa berkata aku langsung masuk kedalam mobil. Sekitar 10 menit aku sampai dialun-alun. Suasana menjelang sore yang cukup dingin tidak membuat sepi pengunjung. Diatas alun-alun yang padat pengujung nampak gunung biru menjulang mengepulkan asap seperti kabut yang dingin. Ditaman dan saung-saung yang didesain sedemikian rupa terlihar beberapa pasang muda-mudi dengan pakaian trendy khas remaja sekarang, asyik bercengkrama bercanda dengan gelak tawa. Aku masih berdiri mematung tak tahu arah yang hendak dituju, kuedarkan pandangan ke sekeliling dikantor pos jaga polisi kulihat dua orang tukang ojeg kuhampiri mereka
“mang…., kalo café mr. black disebelah mana ya…?” tanyaku yang semakin cemas terpikir nayla yang pasti kesal menunggu, ternyata mereka tidak tahu, tepat didepan kantor dinas pariwisata langkahku terhenti, dihentikan oleh dering ponselku.
“ din ada dimana….?” Dari nadanya semakin kesal aja nampaknya
“ tepat persis didepan kantor dinas pariwisata, mang nay dimana sich…? Aku benar-benar nggak tau” jawabku malu sekaligus cemas.
“ pokoknya kamu lurus aja ntar juga ketemu” suara disebrang sana menyiratkan tidak mau pindah tempat.
Kuikuti instruksinya berjalan lurus sambil terus melihat-lihat nama-nama tempat yang kulalui. Namun hingga melewati batas jalan alun-alun nama tempat itu tidak juga ketemu. Aku menyerah melangkah gontai berbalik arah menuju saung alun-alun yang persis bersebelahan dengan patung badak yang dicat hitam mengkilap terlihat gagah dan berwibawa. Aku duduk terengah-engah sambil menggenggam ponsel, cek pulsa tinggal 450 perak. Setelah memastikan nama yang kupanggil ponsel kudekatkan kekuping kananku menunggu tersambung dengan suara si nay disebrang sana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar