Rabu, 25 Februari 2009

AIKA ZAHRA

Ke-1

Wajahnya terlihat ditelungkupkan ke kedua belah lengannya yang berada diatas meja panjang. Aku yang duduk disampingnya benar-benar resah, takut dan mengkhawatiri keadaannya, dua kali didepan mataku dia pernah ambruk pingsan. Bayang-bayang kejadian itupun membuatku semakin panik.
“ Aika kenapa……, Aika nggak apa-apa kan?” aku bertanya untuk mengusir rasa kekhawatiran.
“ Ga….,ga apa-apa ko Tes, Aika cuma aga sedikit lemes.” Jawabnya. Wajahnya masih dibiarkan tertelungkup tak menolehku.
“ Ya udah kita pesan makanan ya…..?”
“ Bu…. Gado-gadonya dua sedang …..”
“ Tetes…..,katanya mau ngajarin Aika statistik sok atuh ajarin, Aika akan dengerin.” Buku statistik yang lem dari sampulnya sudah pada lepas diserahkan kepadaku.
Tiba-tiba datang seorang gadis berkaos merah teman lamaku sewaktu di SMU Sophie namanya. Akupun semakin khawatir pada Aika, kali ini aku khawatir ia cemburu aku nggak mau menyakiti hatinya karena aku tahu ia begitu mencintaiku, setelah bertegur sapa denganku Sophie berbicara setengah berbisik mendekat ketelingaku
“ Tes…., itu siapa?” mukanya menoleh kearah Aika
“ ohhh….. teman……,teman dekat” aku menyesal hanya menjawab teman dekat kenapa nggak aku bilang pacar aja sekalian …. He…he…
“ oh….iya Tes…. Gimana dengan kabar Burqa…?”
“ Nggak tau Pie Tes dah jarang komunikasi”
Pikiranku melayang mengingat sosok Burqa yang sudah lama kukenal. Tanpa sadar aku membanding-bandingkannya dengan sosok Aika. Aika dan Burqa adalah dua sosok perempuan luarbiasa dari merekalah aku belajar untuk tidak menyerah pada situasi dan keadaan apapun. Kebaikan dan kekuatan keduanya dalam memegang prinsif sulit dicari tandingannya. Namun ada nilai plus untuk Aika, Aika lebih lembut dan perhatian kepadaku dengan kata lain Aika selalu ada untukku, tanpa kusadari cintaku pada Burqa telah direbut oleh sosok Aika.
“ Hei….ko bengong?” suara Aika membuyarkan lamunanku, setelah selesai makan dan bayar aku bersama Aika melintas menyebrang jalan, terus berjalan menembus lahan pekuburan umum yang dipadati rumput ilalang setinggi punggung orang dewasa.

***

Aku berdiri mematung disamping Aika yang nampak bingung disamping jalan, jalanan didepanku terlihat sedikit macet
“ Aika tau ga tempatnya?” tanyaku pada Aika yang terlihat sedikit bengong
“ Di Cipare kan dekat kantor polisi…..?” ia malah balik bertanya kepadaku
“ Ya udah Tetes antar ya?” aku nggak tega biarin Aika jalan sendirian apalagi kondisinya kurang fit.
Aku bersama Aika bergegas menyebrang jalan dan menyetop mobil, mobil yang kami tumpangi sepi penumpang. Aku dan Aika duduk berhadap-hadapan, sepanjang perjalanan aku terus memperhatikan Aika yang lebih banyak menunduk walau aku tahu saat aku lengah ia berusaha mencuri pandang. Hatiku diliputi kecemasan aku khawatir saat denganku terjadi apa-apa sama Aika. Tapi aku tetap berusaha tenang. Sekitar seperempat jam kami sampai ditempat yang dituju aku turun terlebih dahulu dan mengongkosi Aika.
“Tes makasi…. Ya….. dah nganterin Aika” seru Aika yang hendak buru-buru masuk biomed dia mengira aku hanya mengantarnya tidak ikut masuk. Aku terus mengikuti langkah Aika memasuki kantor biomed dan duduk diruang tunggu, Aika langsung menghampiri petugas setelah sebentar berbincang Aika diberi botol kosong kecil untuk menampung urine tuk diperiksa. Saat dia ke kamar kecil mengambil urine aku iseng membuka diary pemberian Aika yang ada di tasku. Saat aku menyusuri kata demi kata curhatan Aika terasa ada yang menyesak didadaku aku hanyut membaca tulisan Aika. mataku sedikit berkaca-kaca, aku pasti menangis seandainya Aika tidak cepat-cepat muncul dan menyuruhku menutup diary itu, aku hanya bisa menghela napas panjang. Ternyata Aika yang kukenal bukan orang sembarangan dia begitu dekat dengan Tuhan, sehingga semua kata-katanya selalu merupakan rintihan dan doa-doanya kepada Tuhan. setelah memberikan air urine kepada petugas Aika duduk disampingku, aku masih duduk termenung sambil menggenggam diary yang tadi kubaca. Ingin rasanya aku cepat-cepat membaca semua apa yang Aika tulis.
“ Aika 90ribu” seru petugas memanggil Aika, Aika yang ada disampingku mengeluarkan uang dan bergegas memberikannya kepada petugas, setelah menerima uang, petugas menyuruh Aika masuk keruang rongten. Saat Aika masuk aku kembali membuka diary yang masih kugenggam, lagi-lagi aku ingin menangis, aku benar-benar malu pada Aika yang berlebihan menilaiku, didiary itu Aika menganggapku orang yang telah menerangi jalan hidupnya, mungkin lantaran sms-smsku kepadanya yang sok bijak. Tapi ah…. Aika….aika…..,
setelah selesai di rongten kami segera pulang karena hasilnya baru dapat dilihat kira-kira ba’da ashar, sepanjang perjalanan pulang aku becanda dan tertawa bersama Aika, saat melewati alun-alun Aika tersenyum-senyum memberi isyarat bahwa ada kenangan kami berdua beberapa waktu lalu disana saat melihat festival nasyid dan makan bubur ayam bareng bersama dua orang temanku tubi dan thoif. Sejak saat itu aku ingin selalu melindungi Aika, tak terasa mobil yang kami tumpangi sampai di Ciceri kami berdua turun sepanjang perjalanan menuju kost-an teman Aika aku merasakan perasaan tenang dan nyaman tiba-tiba udara terasa sejuk tidak seperti biasanya. Apakah itu karena aku berada disamping Aika? Ah…… lagi-lagi aku nggak tahu.







Ke – 2

Aku bersama beberapa teman sekelas asyik bercanda dalam gelak tawa di tangga akademik, sambil terus mengomentari cewe-cewe kampus yang seksi-seksi yang membuat mata lelaki kami terus jelalatan, setelah beres ngurusin KRS aku bersama teman-teman bergegas meninggalkan akademik yang masih terlihat sibuk oleh mahasiswa ngurusin KRS. Sampai didepan kantin salah seorang temanku yang sudah terlebih dahulu nongkrong disana menyuruh kami mampir akhirnya kamipun memilih makan dikantin membatalkan rencana awal yang hendak makan gado-gado di tempat warung babe. Sambil makan aku berkali-kali melihat jam diponselku soalnya burqa SMS datang ke ciceri kira-kira pukul 11:30 WIB. Selesai makan karena baru pukul 11:07 WIB aku memutuskan untuk rehat dulu sebentar ke kost-an. Baru saja sampai kost-an burqa SMS
“Tes, burqa dah nyampe ciceri sebrang ayam bakar ciceri”.
Aku membaca SMS burqa sambil mengusap-ngusap keringat bekas jalan dari kampus ke kost-an yang jaraknya cukup bisa mengeluarkan keringat. Aku langsung membalasnya
“Burqa, tunggu bentar ya tes mo ke kost-an dulu bentar”.
Setelah buang air kecil aku langsung bergegas menemui burqa yang pasti dah nunggu, karena nggak mau mengecewakan burqa sambil jalan kaki aku sempatkan SMSnya
“Tungguin bentar ya…. tes lagi jalan nich baru nyampe kuburan”.
Aku terus mempercepat langkahku sampai disamping jalan aku celengak celinguk mencari burqa kulihat burqa lagi berdiri mematung dekat pohon didepan kantor depnaker. Aku cepat-cepat menghampirinya.
“Dah lama qa? Mang dari tangerang tabuh sabara?” tanyaku sambil menelungkupkan tangan kedada sebagai isyarat salam.
“Enggak sih baru datang, dari tangerang sekitar se-jam-anlah….” Jawabnya sambil tersenyum.
“Terus kita mau kemana nih….? Kok nggak nunggu digado- gado j sich?”
“ Iiih malu qa’mah banyakan…., makanya langsung aja kesini, tadinya mau nunggu disitu tapi ya itu banyakan qa’mah malu.mang dikost-an tetes banyakan juga ya….?”
“ Malu kenapa sih qa? tetes juga nggak ada yang kenal ini ama mereka cuek aja. Terus kemana atuh?”
“ Iih….. atuh duka qa mah teu terang.” Lagi-lagi ia tersenyum. maniiiis sekali.
Lama aku berdebat dengannya mencari tempat tuk istirahat, tapi ya gitu bingung juga abisnya Burqa pemalu sih. Mungkin dia malu jalan berdua denganku atau gimana aku nggak tahu, setelah kutawarkan ketempat warung penjual bubur kacang ijo tempat aku dengannya dulu sehabis dia sakit mamayu pengen makan bubur kacang ijo. aku berjalan beberapa jarak didepannya. ribuan mata seolah memperhatikan kami berdua karena waktu dhuhur sebentar lagi, aku mengajak Burqa ke mesjid terlebih dahulu. Di ajak ketempat yang namanya mesjid Burqa tidak pernah mendebat ia pasti mau. Aku langsung masuk dan duduk diserambi mesjid sambil menunggu adzan, kukira Burqa mau duduk disampingku dan ngobrol-ngobrol sebentar sambil menunggu adzan tiba, tapi ternyata Burqa langsung masuk kedalam mesjid. Aku hanya bisa mengela napas panjang, aku benar-benar bangga memiliki Burqa dia akhwat yang eksklusif dan ketat dalam menjaga diri dan kehormatan. Sambil merenung aku iseng SMS Burqa yang sudah ada didalam mesjid
“Burqa, Tetes bangga dan salut sama Burqa, Burqa begitu hebat dalam menjaga diri dan kehormatan”
“Maksudny?” Jawab Burqa singkat
“Bukankah malu itu sebagian daripada iman?”.Aku membalasnya singkat pula karena aku yakin Burqa pasti hanya berpura-pura nggak ngerti doang.
Sekitar 10 menit adzan baru berkumandang. Setelah mengambil air wudhu dan shalat berjama’ah Burqa tidak jadi kuajak ketempat warung bubur kacang ijo. Ia kuajak kembali ketempat gado-gado, syukurnya ia langsung mau, sebenarnya aku ingin semua orang tahu bahwa aku memiliki bidadari secantik dan sebaik Burqa biar semua lelaki iri melihatku. Dimataku Burqa adalah segalanya, bersamanya aku merasa menjadi lelaki paling bahagia didunia. Nyampe ditempat gado-gado ternyata masih penuh Burqa keukeuh nggak mau masuk, mau mampir di warung bakso juga penuh pengunjung, akhirnya Burqa kuajak kekost-an, tadinya dia nggak mau takutnya banyak temen-temanku.. setelah kuyakinkan ia langsung mau. Ternyata sesampainya dikost-an teman-temanku nambah ramai. Yach terpaksa aku bersama Burqa mengalah duduk di luar. Tapi dikost-an tidak begitu lama karena Burqa mengajakku tuk jalan-jalan. katanya sich pengen ke Curug gitu. Sebenarnya aku sedikit agak malas tapi untuk permintaan Burqa aku paling sulit untuk nolak aku ingin selalu membahagiakannya.
Satu jam kemudian ……
Aku bersama burqa turun dari mobil menyebrang jalan, menyusuri jalanan yang becek berliku turun naik, tubuh burqa begitu lincah dan ringan ia selalu berjalan cepat sekalipun dijalanan becek berliku,
“ Burqa lincah amat…., awas hati-hati bilih geubis kin tetes nangis” selorohku sambil becanda
“ kan burqa mah dulunya centil lagian dah biasa, masaaaaa burqa yang jatuh tetes yang nangis?.....” jawab burqa yang terus berjalan cepat didepanku
“ oya…. Burqa liat ga tadi anak-anak SMU? kenapa ya sekarang mah ngtrend pake krudung tapi poninya sengaja diperlihatkan?”
“ ga tahulah Tes, mang rata-rata kaya gitu”
“ pergaulan mang cepat sekali berkembang masalah pacaran aja yang namanya cium, peluk, bahkan lebih dari itu dah di anggap hal yang lumrah. Si Ica aja waktu Tetes tanya kalo nikah ntar apa yang membuat pernikahan istimewa sementara semuanya dah dirasakan. Dia jawab yang pentingkan belum intinya.
“ Iiiih tetes mah ngomongin gitu lagi Burqa mah takut diapa-apain sama Tetes” suaranya mengalun sedikit dibuat manja.
“ ga… atuh qa, teskan sayang burqa”
“ halah….gubrag….” seru burqa sambil mengekspresikan seolah mau jatuh pingsan. Lucu sekali melihatnya.
“ lagian Tetes mah pengen punya pendamping hidup teh yang belum tetes sentuh sama sekali”
“ Atuh si ica aja….. kan belum Tetes sentuh” Burqa menjawab setengah terkikik manja.
“ Ga mau atuh orang si Ica mah dah Tetes sentuh…” jawabku bikin dia cemburu
“ oh iya kenapa sich Tetes jauhin Ica kan dia juga manusia yang ingin mencinta dan dicintai?”
“ Burqa memang gampang ngomong gitu coba kalau Burqa sendiri yang ngalamin kaya Tetes mau gimana ayo….?”
“ ya didiemin aja”
“ tukan sama….! kan Tetes juga kaya gitu”
tak terasa kami sampai dipinggir jalan setelah menyetop mobil. Sekitar 15 menit kami sampai ke tempat yang dituju. Dari pinggir jalan terlihat plang sederhana bertuliskan wisata cirahab. Aku berjalan bersama Burqa menyusuri jalan berkerikil menurun. Nyampe dilokasi terlihat dibeberapa saung-saung berkumpul orang-orang yang asyik berbincang-bincang dengan sesama rekannya. Aku terus mengikuti langkah Burqa sambil melihat-lihat suasana Cirahab yang terlihat berbukit-bukit dengan banyak air dibawahnya membuat sejuk suasana apalagi suasana agak sedikit mendung. Hal ini membuatku kebelet kepingin buang air kecil (aku memang bekser kalau kedinginan). Setelah kencing dan membayar dua ribu perak keseorang anak kecil aku bersama Burqa memilih saung yang begitu sederhana beratapkan weulitan hateup. Setelah duduk Burqa langsung mengeluarkan snack yang ia bawa plus sebotol nii greantea. Kami berbincang segala hal. Saat itu aku benar-benar bahagia ingin rasanya aku seharian bersama Burqa ditempat itu. sambil ngobrol bersama Burqa aku terus mengedarkan pandangan kesemua tempat memperhatikan aktivitas orang-orang yang menikmati tempat itu. Aku melihat sepasang remaja yang asyik berenang dengan kaos kompak putih-putih karena basah kuyup kaos si cewenya terlihat agak transparan.
“ Burqa, disini mah banyak pemandangan yang bikin gimanaaaaa gitu…..” selorohku membuka obrolan dengan tema sedikit cari tahu bagaimana penilaian perempuan dalam memandang lawan jenis”.
“ Enggak sich…, Burqa mah biasa aja. Lagian anak-anak kecil ini”
“ iya ya kenapa tuch dalam memandang anak kecil kita beda, perasaan teh biasa-biasa aja, orang barat mah terbiasa berpakaian terbuka juga seperti anak kecil ini kali ya….?”
“ orang Barat mah dah terbiasa ini kali tes jadi nggak terlalu ngaruh makanya kalau pengen hubungan intimpun bebas mau sama mau ya dilakuin….”
“ makanya Tetes mah beruntung banget gaduh rerencangan kaya Burqa teh” selaku sedikit agak nyindir Burqa yang telah merubah status pacaran jadi sahabat. Aku sich asyik-asyik aja Cuma senang aja ngedenger Burqa berkomentar.
“ halah…. Gubrag, Tetes mah gitu terus” seru Burqa sambil mengekpresikan hendak jatuh pingsan gayanya khas sekali.
“ Burqa, tetes mah rela jadi apapun Asalkan diizinin dekat sama Burqa, kadang kalau tetes lagi egois ingin rasanya memiliki Burqa dan nggak rela melepas Burqa tuk orang lain, tapi kalau mengingat beban Burqa Tetes ikhlas Burqa menikah dengan siapapun yang penting Burqa bahagia. Burqa sempat nggak punya pikiran kaya gitu? ”
“ sempat sich Tes, apalagi kalau mengingat cari kerja susah, dirumah keadaan Bapak kaya gitu…, numpang dirumah teteh nggak enak soalnya ngrepotin terus. Kadang Burqa berpikir kalau ada yang ngelamar mah dan sayang sama Burqa. Burqa akan terima. Tapi hati nggak bisa dibohongi Burqa takut dosa soalnya sekalipun misalkan udah punya suami tetap aja yang ada dibayangan kita orang yang kita sayangi”
“ mang siapa sich orang yang Burqa sayangi…..?” selaku mengoda Burqa
“ siapa ya…. Burqa juga nggak tau” jawabnya sambil tersenyum.
“ Qa…, terus terang Tetes ingin banget sampai nikah sama Burqa tapi kalau mengingat keadaan tetes yang hingga sekarang belum bisa apa-apa kadang Tetes pasrah dan pesimis, mungkin Tetes mah nggak bakal nikah kali. Nikah mah hukumnya situasionalkan? Tergantung sikon kita?”
“ Emang sich tapi kan kita mesti mengikuti sunah Rasul”
“ kalau kasus Rabiah Al-Adawiyah yang bertahan nggak mau nikah gimana?”
“ kan Rabiah mah nggak mau nikah juga takut kemesraanya dengan Tuhan terganggu oleh ngurusin suami”
“ ya sama atuh Tetes juga kaya gitu, buat apa melangsungkan pernikahan kalau kita ga benar-benar ikhlas menerima pasangan kita”
lama berbincang-bincang tak terasa waktu ashar sudah tiba aku bergegas mengambil air wudhu di kolam airnya dingin banget. Selesai wudhu aku berdiri di saung memperhatikan Burqa yang sedang berwudhu. Kami sholat di Mushola kecil sedikit kotor karena mungkin jarang dipakai. kali ini kami tidak berjamaah seperti biasanya. Selesai shalat aku langsung keluar takut terjadi fitnah. aku berdiri mematung menunggu Burqa yang belum selesai shalat sambil memperhatikan anak-anak kecil tukang menyewakan ban renang yang asyik becanda dan tertawa dengan teman-teman sebayanya. ba’da shalat ashar karena waktu sudah sore kami bergegas pulang karena cuaca sedikit gerimis Burqa memberi aku jaket yang biasa ia pakai tadinya aku nggak mau sebab nggak dingin-dingin amat. Tapi untuk menyenangkan Burqa jaket itu langsung kupakai. Saat itu Burqa begitu perhatian kepadaku.

Ke-3


Aku baru benar-benar merasakan bahwa dicintai dan dicemburui lebih sulit daripada mencemburui dan mencintai. Itu yang kurasakan sekarang dan aku nggak pernah mengira sedikitpun bisa mengalami hal sesulit ini, ini bermula saat aku dekat dengan aika. Aku tidak pernah mengira sedikitpun kalau aika benar-benar menyimpan perasaan kepadaku. Makanya saat aika sms jatuh hati kepadaku aku menanggapinya dengan santai. Aku bilang kalau aika benar-benar sayang zar cintailah pemilik zar yakni Allah. Biarlah Ia yang akan menuntun cinta kita. Kurasa jawabanku itu tidak berarti memberi harapan pada aika. Namun saat aku membaca apa yang ditulis aika didiarynya ternyata aika memahaminya lain, aika mengira itu adalah syarat yang harus ia kuasai agar meraih kecintaanku, bukan itu yang ku maksud. Sebab aku sadar satu hal dengan dia dicintai olehku itu nggak menjamin kebahagiaannya baik didunia apalagi diakhirat. Hanya Allah-lah pemilik sumber kebahagiaan. Dan sekarang aku terlanjur dekat dan kata-kata yang ku sms-kan nggak mungkin bisa didelete dari ingatannya. Untuk mengantisifasi sesuatu yang tidak diinginkan disuatu hari saat aku harus berpisah dengannya maka aku bilang nganggap dia adik atau seperti saudara sendiri walau aku tau hal itu sama sekali tidak bisa merubah perasaannya kepadaku. Aku nggak mau sampai menyakiti orang yang begitu mencintaiku, terus terang aku juga mencintainya namun aku sebelumnya sudah memiliki burqa. Orang yang telah mengajariku banyak hal tentang kebaikan. Aku tidak pernah kepikiran sedikitpun untuk mengkhianatinya walau aku tau burqa sudah ada yang ngelamar namun aku yakin ia hanya mencintaiku. Dan keyakinanku bertambah saat aku jalan ke Curug Gumawang bersama burqa. Hari itu aku sengaja nggak masuk kuliah karena aku berpikir itu kesempatan terakhir bagiku bersama burqa. Sebelum menemuinya aku mampir dulu kekostan aika aku mengajaknya sekalian pulang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar