Jumat, 27 Februari 2009

MERETAS BUDAYA LITERASI

MERETAS BUDAYA LITERASI
Oleh : Anas nasrudin*

Suasana perpus tampak sepi pengujung, hanya terlihat beberapa orang mengitari koleksi buku tuk mencari referensi, dikursi baca ada dua orang mahasiswa bercakap-cakap ringan sambil sesekali melihat-lihat judul buku yang tergeletak dimeja,
Odi : Jo….. cepat keluar yu….., aku ga tahan ni puanaaas….. mana koleksinya itu-itu aja dari dulu ga banyak bertambah
Ijo : Sabar sih…. Bentar lagi nih…. aku mau nyelesai’in rangkumanku dulu tanggung dikit lagi.(tangannya terus bergerak sibuk menulis)
Odi : Ya udah aku tungguin tapi jangan lama-lama lu….! aku mau bikin tugas dari referensi buku-bukuku aja-lah disini susah nyari referensi lu liat aja stempelnya aja bekas peninggalan para senior kita, itu artinya yang kita baca buku-buku lama warisan para senior kita. Sementara kampus diluar sana pelayanan perpusnya sudah menggunakan system digital.
Ijo : Gimana mau bertambah die? orang yang baca aja kurang…. Mahasiswa disini kan masuk perpus hanya ada tugas doang…..
Odi : Benar juga apa yang lu bilang tapi kan mestinya ada upaya tuk budayakan literasi, kalau nggak kampus ini bisa mati kan katanya perpus itu jantungnya kampus,
Ijo : Udahlah die kita kekostan aja aku dah selesai nulis ni. aku juga nggak ngerti akan kondisi kampus kita…..
Dari percakapan dua sahabat diatas nampak suasana kekesalan sekaligus harapan. kesal akan keadaan dan berharap datangnya perubahan, karena semestinya budaya literasi (baca-tulis) menjadi bagian aktivitas yang mengitari kehidupan keseharian kampus, perpus adalah jantung kampus, apabila jantungnya mati maka matilah kehidupan kampus. Membudayakan kebiasaan baca-tulis memang cukup kompleks. Mesti ada sinergisitas antara peminat baca dengan koleksi buku yang tersedia, semakin banyak peminat baca semakin banyak khasanah pustaka yang diperlukan, sayangnya di kampus kita peminat baca menjadi minoritas, terpinggirkan mayoritas yang berpenampilan modis. Yang dalam bahasa teman-teman saya secara becanda mereka mengatakan kampus kita dijangkiti virus pensilisme (budaya pensil) mending kalau yang dimaksud pensil disini adalah budaya tulis-menulis, ini lain, tapi mode atau style jelana jeans beagie ekstra ketat, hal ini bukan berarti mereka yang modis kurang doyan baca hanya masalah perbandingan budaya yang lebih dominan, mereka juga pasti berkeberatan apabila diklaim tidak suka baca, karena mereka juga sering nongkrong diruangan perpus tapi menurut pandangan saya sebagian besar dari mereka (mahsiswa pada umumnya) hanya mau mampir ke perpus saat mendapat tugas dari dosen selebihnya tidak tahu, hanya segelintir orang yang masuk perpus tanpa embel-embel tugas dalam artian karena memang keranjingan membaca, kadang saya berpikir bagaimana caranya membudayakan kebiasaan literasi itu?
Berbagi Pengalaman
Kemudian saya berkenalan dengan bukunya Hernowo sang General Manager Editorial Mizan yang berjudul Mengikat Makna. Isinya sangat menggigit berisi tentang pengalaman beliau sehari-hari berurusan dengan teks demi teks disetiap lembaran kertas dan usaha beliau untuk menularkan kebiasaan baca tulis kepada khalayak. Sebelum kata pengantar yang ditulis oleh Haidar Bagir untuk bukunya itu dilembar sebelumnya Hernowo mengutip pernyataan S.T. Hayakawa yang berkata “Dalam makna sesungguhnya sebenarnya orang yang membaca kepustakaan yang baik, telah hidup lebih daripada orang-orang yang tak mau dan tak mampu membaca – adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan”. Hal ini senada dengan pendapatnya Barbara Tuchman masih dalam buku yang sama, Tuchman mengatakan “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek”.
Untuk memecut kita keranjingan membaca rasanya saya perlu membagikan pengalaman saya dengan koleksi yang saya baca, selain beberapa buku yang saya miliki, saya tak pernah ketinggalan untuk membeli Koran tempo terutama minggu ke-4 disitu ada bonus suplemen RUANG BACA, dari situlah biasanya saya memunggut informasi tentang perkembangan dunia literasi. Dalam RUANG BACA Januari 2006 Hal:11 dicerita sampul diliput beberapa profil para penulis muda diantaranya Ahmad Ataka Awwalur Rizki, Stanley Timotius Kurnia, dan WD Yoga.
Awwalur Rizki adik kita ini dengan tubuhnya yang mungil tinggi 127 cm dan berat 25 kg sepertinya tak pantas duduk dikelas 2 SMP 5 Yogyakarta yang berarti sekarang sudah kelas 3 sebab waktu ditulis dikoran waktu tahun 2006 dan sekarang waktu saya menulis tulisan ini penghujung tahun 2007. Remaja ini mulai menulis karena gemar membaca, Ataka terpikat dengan buku sejak duduk di sekolah dasar. Semua majalah anak-anak yang dibelikan orang tuanya selalu dibaca tuntas. Komik-komik mulai dijarah. Tapi novel ia baca agak lambat. Baru kelas 4 sekolah dasar.
Ini dimulai setelah ia kurang puas menonton film Harry Potter di VCD. Ia meminta ayahnya membelikan buku laris itu. Dipikir berbentuk komik, seperti yang biasa ia baca, ternyata tidak. “kok isinya tulisan tok? Wah coba saya baca, dan ternyata saya suka,” katanya.
Imajinasinya terus muncul sejak kelas lima sekolah dasar ia mulai gemar menulis. Dengan tulisan tangan karena belum memiliki komputer dan tinggal di satu desa di Banyuwangi, Jawa Timur belum di Jogja seperti sekarang.
Kelas enam mulai menyusun Misteri Pedang Skinheald, kelar setahun kemudian saat sudah berganti seragam menjadi biru. “soalnya menulisnya nggak setiap hari” katanya.
Naskahnya ia tulis tangan. Ayahnya, Taufiqqurahman, membawa keseorang teman yang anggota Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan teman itu menawarkan ke penerbitan. jadilah buku itu dijaul.
Sebagai bocah kelas 2 SMP atau kelas 3 sekarang tentu saja senang sudah bisa menghasilkan uang dari keringat sendiri. Uang itu pun dibelanjakan dengan baik “sebagian royalty saya berikan orang tua, sebagian lagi untuk beli buku menambah buku-buku koleksi buku-buku bacaan saya” katanya.
Yang kedua S.T Kurnia seperti penulis lain Stanley memulai dari kesukaan membaca sejak sekolah dasar. “Saat duduk dikelas satu sekolah dasar, saya membaca 100 buku dalam setahun,”katanya. Berarti, jika dihitung rata-rata ia melahap satu buku setiap tiga hari sekali. Padahal beberapa bukunya bukan yang enteng. Misalnya Narnia karya C.S Lewis atau buku-buku Tolkien. Malah karya Shakespeare pun ia gemari.
Dari proses pembacaannya itu ia diberi bekal untuk menulis ketika SMU Pelita Harapan tempat sekolahnya meminta setiap siswa membuat proyek pribadi yang sulit. Stanley pun memilih menulis novel berbahasa inggris ala Lord of the Rings dengan judul The Corruption. Ia mengunakan bahasa inggris bukan tuk sok inggris karena memang dia kurang begitu mahir menggunakan kosa kata bahasa Indonesia karena semenjak kecil hingga remaja dia tinggal di Amerika.
Dahsyatnya Pengaruh Buku
Luarbiasa bukan…..?! mereka yang masih remaja sudah berkarya yang jadi pertanyaan kita kapan? Ternyata proses baca-tulis (budaya literasi) juga investasi yang menjanjikan. Saya mengenal ruang baca diberitahu mamang saya beliaulah yang selalu memotivasi saya tuk konsisten membaca dan lincah menulis. waktu itu ruang baca yang pertama kali saya dapat berjudul “Buku yang Membunuh”. Isinya sungguh mengedor-gedor kesadaran saya. Misalnya bagaimana Mark Chapman membaca buku The Catcher of the Rye sehingga ia terdorong membunuh John Lennon. Ia sangat terobsesi oleh tokoh rekaan Salinger, Holden Caulfield, dan ia mengidentifikasi dirinya dengan tokoh ini. Tidak cukup sampai disitu Timothy McVeigh mungkin terilhami atau menemukan pembenaran setelah membaca Turner Diaries sehingga ia mengebom gedung federal di Okhlahoma. Adapun The Catcher buku ini banyak disoroti oleh karena teksnya yang mengusung api kemarahan di sejumlah negara di AS buku ini masuk dalam daftar terlarang untuk dibaca. Antara lain, karena bahasanya yang kasar – bahasa kemarahan.
Bukankah membaca itu aktivitas yang luar biasa berharga. saya yang duduk disudut kamar kost-an misalnya bisa berfantasi mengembara berkelana melintasi ruang dan waktu. Hingga wajar saja Tuhan menurunkan wahyu-Nya kepada Muhammad pertama kali yakni intruksi membaca, membaca dengan menyertakan Tuhan disetiap pembacaan. Masih lekat dalam ingatan ketika Pak Budi menceritakan bagaimana seorang Buya Hamka ketika diundang menyaksikan pameran lukisan banyak orang mengira beliau akan pergi pulang ketika melihat lukisan didepan pintu masuk galeri sebuah lukisan telanjang bulat. Tapi ternyata beliau berlama-lama mengamati lukisan itu sehingga memicu rasa penasaran para wartawan, ketika beliau ditanya hal itu beliau mengatakan bahwa beliau bukan terpesona oleh lukisannya, yang beliau lihat adalah keindahan Tuhan yang telah memberikan kemampuan luar biasa kepada pelukis sehingga mampu membuat lukisan itu. Itulah yang saya pahami membaca dengan menyertakan Tuhan. membaca juga tidak terbatas kepada kumpulan teks, tetapi semuanya adalah perpustakaan besar yang disediakan Tuhan untuk kita baca, “Ibu , kau adalah buku yang belum habis kubaca” begitulah Radhar Panca Dahana mengawali tulisannya dikolom RUANG BACA edisi 43 oktober 2007.
Membaca Sebuah Keharusan
Ketika orang diluar sana sudah merancang buku digital sehingga sebuah buku bisa dinikmati dengan perangkat pemutar CD yang bisa didengar melalui earphone, kita disini membaca buku berbentuk naskah saja begitu berat, apalagi saat disuruh menulis ibarat seorang ibu yang susah payah melahirkan anaknya, membaca dan menulis menjadi sesuatu yang berat dan melelahkan, hal itu terjadi karena dari semenjak sekolah dasar hingga perguruan tinggi masyarakat kita tidak terbiasa membudayakan keprigelan baca tulis. Sekedar mampu membaca dan menulis sudah dirasa cukup dan melupakan proses membaca secara kreatif. Membaca kreatif yang saya maksud adalah proses baca yang diikuti perang intelektual (memperkaya wacana untuk menyuburkan khasanah keilmuan) melalui proses kreatif penulisan. Kalau zaman pendahulu kita Al-Ghazali misalnya membuahkan karya monumental yang masih hidup sampai sekarang dengan bukunya yang populer Ihya Ulumuddin (kebangkitan agama). Dan masih banyak lagi karya-karya yang menyejarah. Seandainya budaya literasi itu dihilangkan apa yang bisa kita gali dan pelajari sekarang?. Kita mesti mewariskan kepada generasi setelah kita ilmu yang dapat dipelajari. Mula- mula kita menulis agar bisa hidup, akhirnya kita menulis agar tidak mati (carlos fuetes).
Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi menulis proses belajar dan membaca dengan tokoh lintang seorang ilmuan miskin namun jenius

Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan agar ia mampu mengayuh sepeda menentang angin setiap hari. Jika berhadapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendikia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain. (Lih 100-101).

Semoga senarai tulisan sederhana ini melecut semangat kita untuk menjadikan budaya literasi sebagai budaya bangsa sehingga Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang seimbang dengan kekayaan sumberdaya alamnya yang terkenal sebagai jamrud khatulistiwa.Wallahu’alam.[]

*Penulis adalah mahasiswa IAIN Semester V Jurusan PAI B
Tinggal dikomplek KPKN ciceri serang






Referensi :

Hernowo. Mengikat Makna, Bandung : Kaifa Mizan 2002 cet IV
Hirata,Andrea. Laskar Pelangi, Yogyakarta : Bentang 2007 cet XIV
PROSA : Oposisi, Seks, Amerika, Jakarta : Metafor 2002
RUANG BACA Edisi 43 Okt 2007

MERETAS BUDAYA LITERASI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah
Seni Pengembangan Seni dan Budaya dalam PAI







Oleh:

ANAS NASRUDIN
NIM: 05212777



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
SERANG 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar