Jumat, 27 Februari 2009

Obrolan Menjelang Senja

Hari itu ba’da ashar disalah satu saung/warung Pantai Karang Songsong tepatnya Desa Cibobos 30 Km sebelah Timur pusat Kota Kecamatan Malingping terdengar obrolan hangat antara pemilik warung dengan beberapa pengunjung yang dari penampilannya menandakan bukan penduduk lokal, mungkin mereka datang dari luar kota yang sengaja refreshing menikmati indahnya pantai menjelang senja.

“Ngomong-ngomong sudah berapa lama bapak jualan disini?”Tanya salah seorang pengunjung yang berbadan agak tambun sambil nyeruput kopi

“Ya udah lamalah pak, mungkin sudah hampir separo usia saya, saya habiskan di tempat ini. Soalnya orang seperti saya ini SD saja nggak lulus ya mau kerja apa lagi” matanya menerawang menerobos rimbun pepohonan disekitar pantai yang dilatar-belakangi oleh cahaya merah keemasan

“Udah lama juga ya pak! Tapi anak-anak bapak sekolah kan pak?” seru pengunjung lain yang duduk disebelah sitambun.

“Alhamdulillah anak-anak saya, semuanya saya sekolahkan semampu saya, saya hanya memiliki 2 orang anak, yang perempuan setelah lulus SMP saya nikahkan, karena saya harus membiayai kakaknya yang hendak melanjutkan kuliah. Anak saya yang pertama itu sudah lama kuliah, kuliahnya lambat karena mesti diselingi dengan cuti sebab kadang saya tidak mampu tuk biaya bayar semesterannya .ia jarang sekali pulang. pernah ia pulang dan menceritakan pengalamannya selama cuti sambil nyari kerja diperantauan menurutnya ia selalu disegani dan dihormati saat memperkenalkan diri berasal dari Banten saya juga nggak ngerti apa penyebabnya hingga Banten bisa disegani?” jawab sipenjaga warung akhirnya curhat panjang lebar.

“Apa mungkin karena seni debusnya yang terkenal itu ya pak?” sitambun dan teman disebelahnya serempak berkomentar seolah tahu betul seni debus yang ada didaerah Banten.

Begitulah sepenggal cerita yang mungkin sering kita dengar. Tak terasa usia Banten sudah berumur 8 tahun. Ibarat anak kecil umuran segitu lagi Neuheur-neuherna[1] atau selalu haus dengan rasa ingin tahu dan pengalaman. Umur segitu umur yang lucu dan mengemaskan namun kadang bisa bandel dan menjengkelkan. Begitulah umur Provinsi Banten kita tercinta, tentu ada kebanggaan dan kejengkelan, kita akan bangga dengan raihan prestasi yang digapai namun akan jengkel bahkan geram ketika melihat kemerosotan.Citra positif yang diberikan oleh orang lain bukan tanpa alasan sebab Banten sekalipun Propinsi ini baru berusia 8 tahun ia memiliki asset kekayaan alam yang begitu kaya dan beragam yang tersebar hampir di setiap Kabupaten yang kalau di kategorikan sebagai berikut: kategori alam: pantai, pulau, kawasan gunung, cagar alam, air terjun, pemandian dan danau, kategori sejarah dan budaya: situs sejarah dan budaya, mesjid, keraton, benteng, makam raja-raja/ tempat ziarah, monumen dan museum. Kategori wisata buatan: pusat perbelanjaan, agrowisata, bangunan bendungan, kawasan pelabuhan, sarana olahraga, kategori kehidupan masyarakat: atraksi kesenian, dan kerajinan tradisional. Belum lagi dalam bidang industri kita memiliki krakatau steel yang sedang menjadi incaran banyak investor asing. Namun terkadang orang lebih mengenal ilmu kebathinan dan seni debusnya saja. Hanya itu yang membuat orang menaruh hormat kepada kita. Padahal seiring perkembangan zaman lambat laun orang akan lebih percaya dengan kemajuan saint ketimbang hal-hal mistis. apakah kita akan mengulang nasib penjaga pantai yang hidup statis dan tertinggal hingga untuk membiayai anak-anaknya mengenyam pendidikan saja harus peras keringat banting tulang. Kita boleh bangga dengan kekayaan alam yang kita miliki namun semua itu tidak berarti apa-apa apabila tidak diiringi dengan kemajuan sumberdaya manusianya yang bisa diandalkan. Banten ibarat memiliki mobil mewah namun tidak memiliki sopir yang bisa mengendalikannya. Akankah semua asset yang kita miliki akan kembali dikuasai oleh orang asing? Masihkah penjajahan dimasa lalu akan terulang? Semua jawaban itu ada dikita terutama generasi muda, apabila generasi muda masih bermalas-malasan berpangku tangan ya bukan tidak mungkin kita akan kembali terjajah. Belum terlambat untuk bebenah. Apakah kita tidak malu dengan slogan yang sering terdengar diradio bahwa Banten didalamnya terdapat kota santri dan seribu kyai? Itu artinya kita memiliki tradisi keilmuan sejak zaman dulu, kita memiliki ribuan pondok pesantren yang mewadahi proses pembekalan kesiapan mental dan keilmuan. Kita mengenal cendikiawan muslim yang mendunia seperti Syech Nawawi Al-Bantani. Namun sekarang bukan saatnya untuk bernostalgia, Syech Nawawi adalah inspirasi buat kita, kalau beliau mampu mengungguli keilmuan di masanya dan bisa dikenal begitu luas hingga mendunia dan dikenang hingga sekarang, kenapa kita tidak membuktikannya bahwa kehebatan beliau tidak terhenti sampai disitu tetapi kita sebagai cucu keturunannya mesti menunjukan pada dunia bahwa diprovinsi ini akan hadir Nawawi-Nawawi yang lain yang akan dikenal menjadi kebanggaan masyarakat Banten, siapakah itu? Tanya pada diri sendiri apa yang telah kita lakukan untuk membangun banten? Wallahu’alam.



[1] Dari bahasa sunda yang menunjukan sikap aktif dan penuh rasa ingin tahu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar