Rabu, 05 Januari 2011

BERKACA KEPADA GURU BANGSA

Oleh: Anas Nasrudin*


Judul buku : Sejuta Hati Untuk Gusdur (Sebuah Novel dan Memorial)
Penulis : Damien Dematra
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama 2010
Tebal : 426

Masih hangat diingatan kita, dipenghujung 2009 awal 2010, seluruh rakyat Indonesia berkabung dengan berpulangnya K.H. Abdurrahman Wahid ketempat keabadian. Lelaki yang akrab disapa Gusdur ini begitu dielu-elukan oleh berbagai kalangan sebagai pahlawan bagi negeri ini, selain karena sempat melenggang ke istana sebagai presiden ke-4, Gusdur juga menjadi milik hampir semua kalangan. Artis, seniman, politisi, hingga rohaniawan. Semua itu tidak lain berkat kiprahnya yang mampu berbaur dengan semua kalangan, tanpa pernah memandang status apapun. Gusdur orang yang akan bersuara vokal jika hak-hak rakyat kecil direndahkan. Semua itu berkat gemblengan kakek dan orang-tuanya serta lingkungan pesantren yang membesarkannya.

Hal ini tentu membuat para pecintanya ingin mengetahui lebih jauh bagaimana kiprah Gusdur semasa hidup, semenjak kelahiran hingga menjelang kepergian kepangkuan Tuhan. Kehadiran novel Damien Dematra ini merupakan hadiah istimewa bagi siapapun yang memposisikan Gusdur sebagai idola sekaligus inspirasi dalam hidupnya. Damien mengakui saat mendengar kepergian Gusdur ke keabadian ia sedang melakukan casting untuk para pemeran film Gusdur The Movie hingga tak heran apabila novel yang cukup tebal ini, mampu ia rampungkan hanya dalam tempo 3 hari.


Si Kutu Buku yang Unik

Di prolog buku ini Damien menceritakan perjalanan KH. Hasyim Asy’ari (kakeknya Gusdur) saat belajar di Mekah hingga kepulangannya ke kampung halaman. Melihat kemerosotan moral di lingkungan sekitarnya Hasyim Asy’ari pun berinisiatif membangun pondok pesantren Tebuireng sebagai upaya menyumbangkan ilmu yang telah ia raih selama belajar di Mekah. Melihat kemajuan zaman yang semakin pesat Wahid Hasyim (bapaknya Gusdur) mengusulkan agar silabus pelajaran di pesantren diperbaharui sesuai semangat zaman. Melalui pernikahan Wahid Hasyim yang modernis dengan Solichah lah Gusdur lahir. Masa kanak-kanak ia lewati seperti bocah kebanyakan, bermain kejar-kejaran, berenang di sungai, main petak umpet, dan permainan khas anak-anak kampung lainnya. Namun Gusdur kecil agak berbeda dalam beberapa hal ia memiliki kecerdasan yang jenius, hobi membaca, dan sedikit rewel selalu ingin tahu, hingga ajudan ayahnya pun kadang kewalahan meladeni pertanyaan beruntun dari Gusdur.

Sebagai ayah yang bijak Wahid mengerti anaknya, ia selalu memberikan bahan bacaan dan merangsang Gusdur terus banyak membaca dan membaca, hingga saat Gusdur berpetualang dari satu pesantren ke pesantren yang lain Gusdur selalu membawa buku bacaan. Di novel ini ditulis bagaimana Gusdur selalu menyertakan buku kemanapun ia pergi, bahkan ketika di Mesir ia jarang masuk kampus, rutinitasnya ia habiskan dengan melahap buku, menonton bioskop, dan mengurusi organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di Mesir. Sebelum ke Cairo ia telah melahap buku-buku asing, seperti La Porte Etroite, For Whom The Bell Tolls (Ernest Hemingway), Das Capital (Karl Marx), Romantisme Revolusioner (Lenin Vladimir Illich) dipinjami oleh ibu guru di sekolahnya (h.158). ia pun membeli sendiri buku-bukunya di pasar loak seperti karya: William Bochner, John Steinback, William Faulkner, Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega y. Gasset, Mao Ze Dong, Plato, Lenin, dll.(160) kebiasaannya ini membuat kemampuan penglihatannya menurun hingga harus mengenakan kacamata berlensa tebal.

Saat di Mesir ia enggan masuk mengikuti pelajaran di universitas, karena ia telah menghafalnya sewaktu mengenyam pendidikan di pesantren. Baginya tidak penting mengulang apa yang telah ia alami dan lakukan, karena hanya akan menghabiskan waktu dan menguras tenaga sia-sia. Jiwanya selalu haus akan hal-hal baru. Dan dengan membaca sebanyak-banyaknya ia telah menemukan banyak hal yang terus membuatnya haus membaca. Tak jarang saat ia asyik membaca di suatu café di Mesir ia selalu menjadi pengunjung terakhir sebelum café itu tutup.
Itulah Gusdur ia selalu haus pengalaman dan hal-hal baru, ia lebih banyak belajar secara otodidak, melihat pertunjukan teater atau pagelaran seni, dan menonton bioskop.

Mencintailah Maka Akan Dicintai

Sebagai suami dan sebagai ayah Gusdur begitu dicintai oleh istri serta anak-anaknya, sebagai anak dan cucu ia begitu dicintai orang-tua dan kakeknya. Di hadapan istrinya tanpa segan ia ikut mengepel dan mencuci perabotan dapur, memandikan dan mengganti popok anaknya, membantu membungkus kacang goreng jualan istrinya. Sering menghadiahi putri-putrinya buku dan cat air setelah ia bepergian. Sewaktu kanak-kanak ia selalu manut tak pernah membantah kakek dan kedua orangtuanya. Kepedulian sosial dan keberaniaannya sudah ia tunjukan semenjak kecil, ia berani meminta batang tebu untuk dibagi dengan teman-temannya selepas bermain petak umpet, memberi pelajaran terhadap anak yang usil mengerjai Mbok penjual uduk di sekolahnya, hingga ia rela dihukum-jemur bermandi matahari oleh sang guru karena perbuatan heroiknya itu.


Saat ia terpilih menjadi presiden banyak sumbangsihnya untuk membingkai kebhinekaan dengan semangat persamaan dan kedamaian, ia membela kaum terpinggirkan atau kaum minoritas, memberi kebebasan kepada para pemeluk agama agar dengan damai dan tenang bisa menjalankan peribadatannya dengan aman dan terlindungi Negara. Membuat peringatan hari libur nasional untuk tiap peringatan hari keagamaan, rajin bersilaturahmi terhadap semua kalangan. Dimatanya tak ada beda pejabat dan rakyat jelata. Begitu banyak pernak-pernik kehidupan Gusdur yang bisa kita pelajari dari novel ini. Kehadiran novel ini sedikitnya akan memberi kesegaran dan spirit baru bagi pembacanya di tengah kondisi bangsa yang semerawut oleh aneka persoalan seperti saat ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar